Kumpulan Novel: YOU ARE

Sepulang UTS, dua bulan yang lalu saat semuanya bermula…
Silla
memarkirkan motornya di emperan warung. Sedangkan aku hanya
bersungut-sungut, tadi Silla mohon-mohon supaya aku ikut dengannya dari
sekolah. Entah apa yang ia lakukan, padahal aku ingin istirahat. Terus
sorenya belajar buat besok lagi.
“Sil, Lo kesini ngapain sih?”
“Lihat aja deh kak” katanya.
“Tapi
Sil” kataku. “Kok ada anak angkatan gue, sendirian lagi” tanyaku
sedikit takut melihat anak cowok yang sedang memainkan sesuatu.

Silla terlihat malu-malu, “Aku mau ngobrol sama dia kak”
“Sil??” aku terlihat shock. “Lo serius??” dan aku malu karena cowok itu menoleh!
“Hei Kak” Silla langsung menyapa cowok itu dan langsung turun dari motor dan masuk ke kedai emperan.
“Hei” balasnya. “Ini temen lo? bukannya dia anak angkatan gue ya?”

Dia tahu gue! Pikiranku tak menentu. Aku tahu sedikit cowok ini, dia
biasa dipanggil Finn, kelas XI IPS 1 mantan anak X.1. Sebenarnya aku
menyukai cowok ini semenjak kami masih kelas sepuluh. Namun kami tidak
saling mengenal. Habis, kelas cewek-cowok terpisah sih dan sekolah
mengatur hubungan cewek-cowok di sekolah dengan cukup ketat.
“He..he.. iya kak” Silla pun nyengir. “Dia kakak kelas gue dari SMP”
“Ooh..” dia meangguk dan kembali tertunduk.

Dan
benar saja, mereka asik ngobrol sendiri sedangkan aku bengong ditemani
segelas jus alpukat (di traktir Silla soalnya aku nggak punya duit).
“Finn, Kok lo mau sih ladenin ajakan dia” tiba-tiba aku angkat bicara. “Rumah lo kan jauh?”
“Kok lo tahu?” dahinya terlihat mengerut.
“Gue pernah ngeliat lo dihukum gara-gara telat” jawabku.
“Ooh” dia meangguk.
“Silahkan, kalian mengobrol lagi” kataku tanpa mau memikirkan apapun lagi.
***

“Sil,
lo rada sedeng ih” kataku saat kami dalam perjalanan pulang. “Anak
Al-Falah tuh ada yang rumahnya di sini tahu, bahkan alumni aja ada. Apa
nggak nyari masalah nih?”
“Kalau kataku mereka biasa aja” kata Silla. “Tapi nggak tahu juga kalau kepergok guru”
“Lo emang nggak pernah sms-an sama dia?”aku balik bertanya.
“Nggak, Ngomongnya cuma di twitter. Tapi kalau twitter males, suka di stalkerin sama kakak kelas mulu”
“Ya elah, angkatan gue juga sama kali pas kelas sepuluh” jawabku. “Tapi kok lo bisa kenal sama dia?”
“Dia yang mention aku duluan” jawabnya. Aku meangguk,
“Terus yang ngajak ketemuan siapa?” tanyaku. “Dia atau lo?”
“Nggak tahu” jawabnya. “Kayaknya dia, tapi aku juga penasaran orangnya yang mana”
Dalam hati aku geleng-geleng kepala, berani juga tuh anak pikirku tentang Finn.
***

Aku
dan teman-temanku sedang tertawa-tawa di sebuah kursi panjang dekat
tukang cimol di bilangan Graha ketika suara cowok menyentak kami.
“Ara!” kami langsung menoleh, dan ternyata Rio pacarnya Ara bersama teman-temannya. Dan ternyata ada Finn juga di situ.
“Ciye… Ara” ledek Gita. “Samperin tuh pacarnya”
“Iih… Ara bikin envy” kata Hana yang hubungan pacarnya termasuk LDR. Ara pun hanya nyengir lalu bangkit mengahmpiri pacarnya.
“Ma..Alma..”
panggil Farras yang duduk di depanku. Aku langsung menoleh dan Farras
memeragakan ekspresi yang sering ia lakukan kalau Finn muncul (dari
kelas sepuluh). Aku langsung menyikut kakinya (biasanya sih mukul
lengannya, tapi posisinya lagi nggak tepat).

Di antara kumpulan
ini, memang cuma aku, Gita dan Farras yang jomblo. Selain Hana, Syifa
juga LDR dengan pacarnya yang berada di Bandung. Sedangkan Gita yang
baru putus dari pacarnya sedang PDKT dengan anak angkatan kami. Setelah
puas jajan. Kami bersiap-siap untuk pulang
“Ara!” panggil Gita. “Ayo, kita udah mau cabut nih!”
“Iya!Iya!” balas Ara, dia pun tampak menyelesaikan pembicaraannya dan langsung menghampiri kami.
“Hoi” aku yang baru saja menaiki sepedaku menoleh. Ternyata Finn.
“Gue mau nitip buat Silla” dia menyerahkan secarik kertas. Tak sengaja aku membukanya, ternyata nomornya. Aku meangguk.
“Mestinya lo duluan lah yang sms-in dia” kataku. “Dia bakal malu kali kalau mulai duluan”
“Habis gue nggak tahu nomornya sih” kata Finn. “Lo tahu?”
“Tahu sih” jawabku.
“Kalau tahu, lo sms-in nomornya ke nomor itu” kata Finn. “Ntar gue yang mulai”
“Ya udah deh” kataku. “Gue bilang dulu ke anaknya” aku pun memasukkan secarik kertas itu ke dalam tas.
“Thank’s
ya” katanya. Aku meangguk, tak ku pedulikan ekspresi teman-temanku.
Nanti akan ku jelaskan pada mereka. Maklum, mungkiin karena aku yang
bukan anak yang eksis mendadak dekat sama cowok,.
***

Tak
terasa UTS pun berlalu dan kami beralih pada rutinitas semula. Berangkat
jam tujuh pulang jam 4. Banyak tugas, ulangan, apalagi kalau sudah
penjurusan. Kegiatan OSIS dan ekskul juga nggak kalah seabreknya.
Pokoknya semuanya serba seabrek deh. Tapi aku belum mendengar lagi kabar
hubungan Silla-Finn. Biarin lah, toh mungkin sudah sering sms-an.
“Halo ini siapa?” tanya ku di HP. Heran, siapa lagi yang ngehubungi gue jam sepuluh?
“Ini gue Finn” jawabnya. Dahiku mengerut.
“Kenapa?” tanyaku. “Lo mau nanya tentang Silla?”
“Iya” jawabnya. “Gue lagi bingung nih”
“Finn” kataku. “Lo udah pacaran sama Silla?” tanyaku. Dia tampaknya terdiam.
“Belum” jawabnya. “Gue aja belum nembak dia”
“Bener?” tanyaku. “Kata-kata lo kurang meyakinkan nih”
“Beneran” katanya. “Serius”
“Terus lo mau ngomongin apa tentang dia?” tanyaku.

Akhirnya
tentang salah satu cowok yang mention Silla yang katanya teman Silla
semasa SMP yang pernah nembak Silla, tapi Silla tolak. Sepertinya Finn
penasaran tentang cowok itu.
“Hmm gue nggak terlalu tahu juga sih
kalau soal cowok SMP gue” jawabku (pasti Finn kecewa). “Tapi kata
temannya, dia memang kenal sama anak cowok sana gara-gara ngikut
teman-temannya yang bandel dan gara-gara itu dia kena SP”
“Hah serius?” Finn terdengar kaget. “Cuma gara-gara kenal cowok? Lebai banget”
“Yahh..
namanya juga SMP gue” jawabku. “Tapi sih gue mikirnya mungkin karena
mereka janjian sama anak cowok malem-malem. Angkatan dia memang rada
sedeng sih”

Akhirnya percakapan melebar membicarakan angkatan
kami semasa SMP. Lalu kini beralih ke masa-masa kelas sepuluh. Dari
masa-masa MOPDB hingga kejadian sehari-hari di kupas habis. Hingga
kegiatan OSIS semasa kelas sepuluh.
“Dulu gue lega banget pas tahu
punya patner cewek di sekbid tempat gue tugas” kataku. “Di sekbid lain
dari tiga orang duanya cowok semua”
“Bearti cowok di sekbid kamu cuma satu?” tanya Finn. “Siapa?”
“Ivan” jawabku.
“Dia kan cowok idola anak angkatan sama adek kelas” jawabnya. “Beruntung dong”
“Hmmm lumayan sih” aku mikir-mikir. “Nggak ah, nggak ada perubahan dalam hidup gue”
“Emang lo nggak suka sama dia?” tanya Finn. “Dia kan cakep”
“Yahh..
ada sih perasaan itu sedikit lah” jawabku. “Mungkin karena tampangnya”
dia pasti nggak tahu atau pura-pura cuek kalau aku suka sama dia dari
kelas sepuluh.
“Oh iya gue pengen nanya” kataku. “Gimana ceritanya lo bisa kenal sama Silla?”
“Hmm..”
dia tampak berpikir. “Gue tertarik aja pas ngeliat namanya di twitter,
ternyata dia adek kelas gue. Gue belum tahu kalau ternyata dia anak
populer, terus gue mention dia”
“Kalau gitu lo beruntung dekat sama dia. Anaknya baik, perhatian, cantik lagi” kataku.
“Thank’s. Eh, sekarang udah jam sebelas nih” kata Finn. “Nggak pa-pa gue ganggu lo?”
“Sedikit” jawabku. “Tapi lo beruntung karena ini malam minggu. SMP gue pernah ngobrol sama Silla sampai jam dua belas”
“Ya udah, met tidur ya” kata Finn. “Sorry kalau gue ganggu lo”
“Sip” jawabku. Akhirnya percakapan terputus.
***

Dan
tanpa di duga hal itu membuat aku semakin dekat dengan Finn (hal yang
dulu masih antara nyata dan tidak). Aku jadi ladang curhatnya tentang
Silla atau hal yang lain (dia menjadi orang kedua tempat aku cerita
selain Farras). Terkadang kalau HP nya lagi disita, Silla pun menitip
pesan untuk Finn. Dan menurutku hubungan mereka masih stuck. Finn belum
nembak Silla, entah belum atau nggak pingin. Soalnya Silla juga nggak
ingin pacaran dulu.
Aku jadi suka ngeledekin Finn. Dia menjadi
sasaran cowok pertama yang suka ku ledek kalau keadaan memungkinkan
(kalau timingnya salah itu namanya nyari masalah), setelah tiga tahun
(empat sama kelas sepuluh) aku nggak pernah berhubungan dengan yang
namanya cowok. Dan tanpa diduga Finn sering ngeledeikn aku dengan Ivan
(padahal aku sama Ivan udah nggak satu sekbid lagi). Aku curiga,
jangan-jangan Finn stalkerin twitterku lagi. Tapi twitterku kan jarang
aktif.
***

“Menurut Kak Alma, Kak Finn gimana?” tanya Silla, saat Silla menelpon.
“Hmm..
Keliatannya cuek, berantakan, tapi bukan termasuk orang yang PeDe” aku
tampak mikir-mikir. “Tapi kadang-kadang dia nggak terduga. Kenapa
memang” dia pun memberikan jawaban yang mengejutkanku.
“Sifat kakak sama kak Finn mirip tahu” kata Silla. “Kalian cocok kalau pacaran”
“Masa sih?” tanyaku. “Cius? Miapah?”
“Serius kak” jawab Silla. “Kalian berdua tuh cocok” mendengar hal itu aku hanya terdiam.
***

“Silla nggak tahu kalau aku suka sama Finn dari kelas sepuluh” kataku pada Farras saat menjelang sholat dzuhur.
“Tapi dia bilang gitu ke kamu?” tanya Farras. Aku meangguk.
“Kalau aku pacaran gimana Far?” tanyaku.
“Hmm…”
Farras yang biasanya konyol kini terlihat serius. “Itu pilihan kamu
Alma. Tapi… pasti ada yang berubah kalau kamu pacaran”
***

Aku membaca percakapan sms yang terjadi seminggu yang lalu antara aku dan Finn.
Alma ada yg pengen gue omongin ke lu
Kenapa Finn? Tentang Silla?
Bukan. Alma Gue suka sama lo. mau nggak lo jadi pacar gue?
Walaupun
sudah seminggu, aku tetap terdiam embaca sms itu. Sebenarnya aku girang
di tembak sama dia, banget malah. Tapi.. ada sesuatu yang menghadangku
untuk menerima dia.
Jujur saja, aku belum pernah pacaran selama lima
belas tahun. Dan aku hanya ingin cinta itu bersemi saat sudah waktunya
yaitu saat aku dewasa dalam jalur yang bernama pernikahan. bukan sekedar
pacaran yang berakibat munculnya banyak mudharat. Tapi ajakan dari Finn
sempat menggoyahkanku karena selama belum ada yang menembakku apalagi
dari orang yang ku sukai. Karena itulah aku belum menjawab, aku masih
berfikir dan merenung.
Aku harus jujur sama Finn tentang prinsipku.
Mungkin itu terdengar jahat, karena bearti aku menjadi pemberi harapan
palsu baginya. Tapi, sebenarnya aku pun tidak menjajikan apapun
kepadanya selain persahabatan. Yah, daripada aku dan dia pacaran yang
mungkin tidak dapat bertahan lama. Lebih baik perasaan itu di salurkan
dengan yang namanya persahabatan. Dengan meneguhkan hati dan menghela
nafas. setelah seminggu menggantung, akhirnya jawaban itu keluar juga.
Finn, maaf gue nggak bisa nerima lo karena belum saatnya cinta itu saling memiliki.
***

“Alma
tumben nggak makan” kata Gita melihatku terdiam. “Biasanya paling lahap
kalau ada lontong sayur” katanya saat kami makan siang bersama di
kelas.
“Aku lagi ada masalah nih” kataku. “Aku mau minta pendapat kalian semua”
“Boleh” kata Hana. “Silahkan saja” akhirnya aku bercerita tentang semalam.
“Mau
pacaran atau nggak itu pilihan mu, ma” kata Hana. “Tapi kalau kamu
memang berprinsip nggak mau pacaran sebelum menikah. Kamu harus tetap
mempertahankannya”
“Begitu ya?” aku meangguk. Memandangi tempat makanku yang sudah tandas. “Bearti tindakan ku udah bener ya. syukur deh”
“Ayo dong Alma, semangat” kata Rina. “Emang siapa yang nembak lo ma?”
“Finn“Jawabku.
“Hah cowok yang waktu itu?” kata mereka serempak. “Ternyata dia??” aku hanya meangguk sambil meringis.
“Ciye.. Alma” ledek teman-temannya.
“Udah..udah..”Syifa pun menegahi. “Tapi sama Alma ditolak, jadi nggak ada traktiran”
“Betul”
kataku dengan lontong sayur di mulut “Aku nggak punya duit”kataku lega
walaupun diam-diam aku masih merasa bersalah dengan Finn. Aku ingin
kasih dia penjelasan.
***

Seminggu kemudian…
“Kak” Silla memandangiku dengan wajah yang terkejut. Aku hanya meangguk.
“Kalau aku jadi kakak pasti nyesek”
“Gue harus gimana Sil?” kataku. “Emang belum saatnya kan?”
“Terus kakak mau nyampein surat ini ke dia?” tanya Silla.
“Sil” kataku. “Tolong sampein surat ini ke dia, please. Terserah dia mau baca atau nggak”
“Ya udah kak” Silla menghela nafas. “Ntar aku titipn lewat Ricky” aku meangguk.
“Padahal aku udah ikhlasin kalau kalian pacaran” gumam Silla. “Tapi Kak Alma benar. Masih banyak yang harus kita raih”
***

Aku
berjalan melintasi parkiran sekolah dan menghampiri motor untuk
mengambil sesuatu di bagasi motor. Hari ini aku membawa motor karena ada
acara bersama teman-teman sepulang sekolah nanti.
“Alma” tanganku
yang akan membuka kunci bagasi terhenti dan aku pun menoleh. Ternyata
Finn sedang duduk di atas motornya. Entah sedang apa.
“Udah gue sampein ke orangnya” kata Finn. Aku tersenyum.
“Makasih” kataku.
“Bearti sebenarnya perasaan gue berbalas dari kelas sepuluh?” tanyanya. Aku hanya meangguk.
“Tapi sorry Fin” kataku. “Setelah gue pikir-pikir. Kayaknya belum saatnya hal itu terjadi”
“Gue mengerti” jawab Finn. “Gue minta maaf”
“Nggak Finn” kataku. “Tapi sekali lagi terima kasih”
Dia
pun tersenyum, “Kita tetap sahabatan ya” aku meangguk dan ikut
tersenyum. Jujur saja, walaupun kami tetap sahabatan. Tapi apa aku rela
ya kalau dia akan pacaran dengan orang lain?
***

For: Finn
Sebelumnya
gue minta maaf klo lo terganggu dgn adanya surat ini. Tapi ada sesuatu
yg pengen gue ceritain ke lo lewat surat ini. Terserah lo mau tahu atau
nggak.
Sebulan setelah kita jadi anak kelas sepuluh, gue menyukai
seseorang.Kalau gue pikir sampai sekarang, agak susah untuk menyusun
kata alasan gue suka sama orang itu. Dia itu nggak populer,wajahnya
biasa-biasa saja, penampilannya berantakan. Dan gue pun bingung. Tapi
anehnya, hari gue jadi cerah saat ngeliat orang itu. Dan hari itu juuga
bisa jadi suram kalau orang itu nggak muncul. Dan gue sadar satu hal:
bukannya dia tidak muncul, tapi hanya menyembunyikan diri. Mungkin
keramaian bukan tempat yang cocok untuknya.
Lo mau tahu siapa orang
itu? Gue nggak mau ngasih tahu, karena lo pasti tahu jawabannya. Tapi
gue rasa, perasaan itu lebih indah kalau gue simpan di hati. Lo setuju
kan?
Nb: kalau lo ketemu sama orang itu, gue titip ucapan terima
kasih untuknya. Bagi ku orang itu,bikin gue semangat lagi dalam
menjalani hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rebah Di Tirai Cinta ( Bab 22 )

Rebah Di Tirai Cinta ( Bab 24 )

NOVEL CINTA TERLENGKAP: Makluman