Kumpulan Novel: KENALI LEBIH DEKAT

Petang telah tiba, Banu hendak melesat
pergi menjauhi tempat peperangan. Kini telah berada di ujung tanduk,
saatnya melayang-layangkan renungan pikiran menuju tempat peperangan
yang lebih besar, dengan memiliki berbagai musuh yang bersenjata
lengkap. Cukup rumit bayangan itu, ujar Banu dalam hati. Kedudukan yang
tak pantas, pakaian kusut, sepatu menongol ibu dari jarinya, dan rumah
kayu yang jadi tempat meneduhnya bersama neneknya yang telah tua. Semua
itu tak membuat Banu minder akan keberadaannya. Bergaul dan bersahabat
itu keahlian Banu. Walaupun, Banu menyenangi mata pelajaran Biologi, tak
luput dalam kehidupan sesaatnya pandai dalam sosiologinya.

Senja buta, tibalah Banu di rumah. Tok.tok.tok Assalamualaikum. Dibukalah pintu itu.
“Banu baru pulang?” dengan wajah cemas nenek bertanya, karena ini pertama kalinya Banu pulang malam hari.
“Iya
nek. Tadi di tempat pertempuran, diselesaikan secara tuntas, karena
lusa harus siap bertempur dengan musuh-musuh yang datang dari pemerintah
dengan sederetan alpabet beserta pungtuasinya yang terkenal menakutkan
(tanda tanya ataupun tanda seru).” Jawab Banu kepada nenek.
“Nek, nek, nek?” tanya berulang Banu kepada neneknya.
“Iya apa Banu?” jawab nenek dengan tersenyum.
“Begini
nek, tempat pertempuran Banu hampir usai, Banu ingin melanjukkan
peperangan yang lebih hebat lagi, dan lebih dasyat lagi nek, dengan
musuh-musuh dari penjuru dunia dengan peralatan-peralatan hebat untuk
berperang. Biar Banu memakai bambu runcing untuk berperang, Banu tak kan
menyerah dan tak akan kalah.” Penjelasan Banu dengan kegigihan
menjawabnya.

“Oh itu, jika Banu ingin mencapai itu semua, dengan
penuh kegigihan Banu, mari Banu ikut sama nenek. Banu kita sama-sama
salat malam, berpuasa, dan selalu mengoyang-goyangkan pengecap Banu
dengan alunan-alunan doa atas nama-nama Tuhan.” Nenek memberikan saran
dengan lemah lembut, dengan ketuaannya yang lelah berujar terlalu
panjang untaian kata, dengan sedikit senyuman nenek yang penuh
kepastian.
“Baik nek, Banu mau ikut nenek.” Dengan tersenyum Banu berujar kepada nenek.
Pukul
21.00 memisahkan perbincangan antara Banu dan neneknya menuju ruangan
masing-masing. Terpintas, terpikir dalam benak Banu hingga lelapnya
mimpi-mimpi dalam matinya. Tak pernah terpikir oleh neneknya, kemiskinan
bukanlah membuatnya kufur akan nikmat Tuhannya. Bukan ujaran-ujaran
kasar yang terlontar, bukan ujaran penyesalan atau keluhan “ah, ih, uh,
eh, dan oh” yang terlepas dari ikatan alat pengecapnya kepada Banu
melainkan mengajaknya bermain lebih dekat kepada Tuhan.

 

Kenali Lebih Dekat

Tepatlah tuan mentari masih terlelapnya di balik bumi bagian lain,
bangkitlah nenek dari kematiannya. Tepat sekali pukul 03.00. Dengan
kelambatan gerak langkahnya menuju kediaman matinya Banu.
“Banu, Banu, Banu” sahut nenek.
“Iya nek, ada apa?” Jawab Banu dengan kesipitan matanya.
“Mari
kita shalat malam, Banu ingin bertempur lagi kan? Dengan musuh yang
lebih hebat dengan kelengkapan senjatanya?” Penjelasan nenek kepada
Banu.
“Oh iya, nek. Baik nek” Melotot mata Banu, dan terbangun dalam
matinya, melangkah sempoyongan seperti mabuk berjalan menuju
tempat-tempat syaitan menetap. Dibuatlah air mancur yang baunya
menyengat, bergegasnya menyucikan diri.
“Nek, Banu sudah siap” dengan menghampir neneknya.
Dimuailah
mereka persahabatan lebih dekat dengan Tuhannya. Untaian kata yang
indah, bergoyang-goyang dalam pengecap tak lepas dalam ikatan
mengeluarkan alunan-alunan doa yang indah memuja dan memuji nama-nama
Tuhan. Begitulah tiap hari dilaksanakannya, tak lupa pula shaum
senin-kamis yang tak tertingal, juga peperangan selalu dilakukannya usai
bersahabat dengan Tuhannya.


Usai sudah peperangan yang dihadapi Banu serta rekan-rekannya.
Mereka memperoleh kemenangan dengan hasil yang memuaskan melawan
musuh-musuh yang diberikan pemerintah. Terutama Banu, ia berhasil
memeroleh kepuasan tertinggi pada mata pelajaran biologi, menjadi
pemimpin tinggi pada tempat peperangan tersebut. Tak sedikit
ucapan-ucapan berteberangan kata-kata rekan-rekannya “Selamat ya Banu”,
juga terjadinya pelukan hangat bersama sahabatnya Bono. Walau nama yang
hampir mirip, mereka bukanlah adik-kakak yang kembar, karena mereka
bukanlah saudara kandung dari almarhum ayah dan ibunya Banu. Mereka
bersahabat semenjak kecil, awal SD hingga sekarang.


Tiga bulan telah berlalu, menandakan usai sudah berakhirnya
kemenangan itu. Dibukalah tempat-tempat pertempuran yang lebih besar
dengan musuh yang besar dari seluruh penjuru dunia dan luar biasa alat
tempurnya. Dengan berjuta-juta alpabet yang tersirat dalam lembaran yang
tertata rapi, banjirya kertas-kertas pahlawan yang bernominal, dan
alat-alat elektronik yang mereka miliki. Banu hanyalah bermodalkan
Sahabatnya yang selalu menemani Banu di manapun berada, Banu bergaul
tiap paginya, siangnya, sorenya dan malamnya dengan merendahkan diri dan
untaian kata halus yang keluar dari ikatan alat pengecapnya
“Subhannallah, Alhamdulillah, Allohhuakbar”. Tak lupa pula dengan
bergeming dalam perangnya berladasan kayu terukir dengan empat kaki dan
tampak dihadapnya kasus bunuh diri dalam kegelapan dengan api yang
panas. Anggaplah Banu bersenjata bambu runcing yang siap bertempur
dengan gigihnya. Pada saatnya mulailah Banu berperang di tempat itu.

Usai
sudah awal peperangan, menunggulah Banu dengan penuh kesabaran, apakah
Banu menang atau kalah dalam pertempuran itu. Setelah melihat hasil
pertempuran itu melalui media yang tak mampu hidup tanpa bantuan energi
listrik itu, ternyata Banu mengalami kekalahan. Tangis Banu terurai, dan
pulanglah Banu ke tempat kediaman dulu bersama neneknya. Tok.tok.tok,
Assalamualaikum. Dibukalah pintu itu.
“Bagaimana hasilnya Banu, menangkah?” tanya nenek dengan penuh keyakinan.
“Banu belum saatnya bertempur kembali nek. Banu kalah dalam pertempuran itu” jawab Banu dengan lemas.
“Tak apa Banu, mungkin Tuhan memiliki rencana lain” ucapan dan senyum nenek membangkitkan kembali semangat Banu.

Usai
sudah dari penderitaan kekalahan itu, Banu mencoba mengikuti tes
bekerja di negara dengan sejuta alat-alat canggih dengan menggondolkan
keahlian biologinya. Ternyata, lamaran Banu diterima, dan dipanggilnya
untuk wawancara. “Alhamdulillah” ucap Banu dengan bahagia. Ditemuinya
sang nenek.
“Nek, Banu mendapat tempat bekerja di negara asing nek.” Ujar Banu dengan bahagia.
“Alhamduillah” ucap nenek dengan isak tangis, membuat kembali Banu menangis.
“Tuhan pasti memiliki rencana lain” sambil memeluk Banu.
Esok
hari, Banu pamit pergi kepada neneknya, dan meminta sahabat kecilnya
Bono untuk menjaga dan merawat neneknya Banu. Tibalah di sana, Banu
bekerja dengan baik. Terlihatlah pekerjaan Banu oleh pimpinan tempat
ini. Ternyata, pemimpin besar tempat ini adalah pemimpin besar tempat
pertempuran dengan ribuan musuh yang berada ditempatnya. Panggil saja
Prof. Saefullah. Ditemuinya, dan diajak bicara. Hal itu tiap saat
dilakukan Banu. Pada akhirnya, Banu bekerja sambil bertanya-tanya
mengenai ilmu-ilmu yang dimiliki pemimpin besar itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rebah Di Tirai Cinta ( Bab 22 )

Rebah Di Tirai Cinta ( Bab 24 )

NOVEL CINTA TERLENGKAP: Makluman