Kumpulan Novel: KAMAR SEBELAH !
“Rafy, tolong simpan kardus-kardus ini ke kamar sebelahmu.” perintah ibu. “Siapa tahu nanti berguna,”
Aku langsung membawa setumpuk lipatan kardus itu ke kamar di sebelahku.
Saat itu kami sekeluarga baru pindah, sehingga banyak barang yang harus
kami tata. Untung saja rumah baru kami sangat besar dan berlantai dua,
jadi kami tidak usah bersempit-sempitan lagi seperti di rumah lama.
Saat aku masuk ke ruangan di sebelah kamarku, jendela besar langsung
terpampang di sana tanpa tirai. Aku bisa melihat pemandangan hutan dari
sana dengan sangat jelas. Pucuk-pucuk pepohonan melambai-lambai
seolah-olah mengajakku untuk pergi ke sana. Tapi memang itu keinginanku.
Aku paling suka berkemah atau menjelajahi hutan yang belum kukenal. Dan
untungnya, ayah mengizinkanku untuk berkemah di hutan itu.
Siang terus berlanjut. Aku bersama kakak perempuanku—Dona—tidak
henti-hentinya membantu ayah dan ibu, hingga waktu senja datang
menjemput kami. Setelah menutup semua tirai dan membersihkan diri, kami
langsung makan malam bersama di ruang makan.
* * *
Jam menunjukkan pukul 10 malam ketika aku bergegas naik ke tempat tidur.
Alunan musik rock yang datang dari kamar kakakku sangat menyiksaku saat
itu. Meski kamarnya ada di bawah, namun musiknya tetap terdengar sampai
ke telingaku.
Aku jadi benar-benar tidak bisa tidur.
Hingga akhirnya terdengar sebuah suara yang datang dari kamar di
sebelahku. Sebuah suara yang lumayan keras, dan membuat lantai kamarku
bergetar. Aku langsung bangkit dan memasang telinga baik-baik. Itu suara
jendela dibanting. Tidak salah lagi. Tapi siapa yang membantingnya?
Dan pada saat itu juga, alunan musik rock dari kamar kakakku berhenti
seketika. Suasana menjadi hening. Tetapi tak lama kemudian, terdengar
suara langkah kaki berlari menaiki tangga dan melewat di depan kamarku.
Setelah itu suara langkah kakinya tak terdengar lagi. Kupikir itu adalah
Kak Dona yang berlari. Mungkin ia juga mendengar jendela dibanting
keras, lalu segera berlari menghampiri kamar sebelahku itu. Akhirnya aku
pun keluar dari kamarku.
“Kakak? Kakak ada di sana?” tanyaku sambil mengetuk pintu kamar sebelahku.
dalamnya sama sekali tidak ada siapa-siapa, dan jendela besarnya masih
tertutup dan terkunci. Aneh sekali, pikirku.
Tiba-tiba ada suara seorang anak perempuan meminta tolong!
“Tolong … Tolong aku … ”
Aku benar-benar terkejut. “Siapa itu?!”
“Tolong aku … “
Aku berpaling ke sana kemari, mencari asal muasal suara itu. Namun aku
tidak menemukannya. Dan meski aku sudah berbaring di kamarku, suara
menyeramkan itu terus-menerus menghantuiku sepanjang malam. Aku
benar-benar tidak bisa tidur.
* * *
“Benarkah?” ujar Dona. “Padahal ‘kan aku membiarkan kaset rock-ku menyala sampai tengah malam.”
“Tidak mungkin. Aku benar-benar mendengar kalau musik rock di kamar
kakak mati setelah ada suara jendela dibanting itu. Lalu terdengar suara
langkah kaki berlari menaiki tangga,” jelasku. Saat itu kami sedang
makan pagi. Aku ceritakan semuanya kepada kakak, ayah dan ibu.
Ibu hanya tersenyum mendengar perkataanku. “Mungkin kamu hanya bermimpi,”
“Kau tidak biasa dengan rumah ini, sehingga … yah—halusinasimu mulai
bermain dan mengganggumu.” tambah ayah. “Kalau sudah terbiasa pasti
tidak akan begitu,”
Aku mengeluh di dalam hati. Mengapa mereka tidak pernah percaya padaku?
Sedangkan pada Kak Dona, semua yang diceritakannya selalu ditanggapi dan
dipercaya. Aku dan dia ‘kan hanya beda 5 tahun. Aku kelas 4 SD,
sedangkan dia kelas 1 SMA. Tapi kata teman-temanku, orang yang lebih tua
memang lebih dipercaya.
“Oh ya, nanti malam, pamanmu akan datang menginap di sini.” kata ayah
membuyarkan lamunanku. “Ia akan datang bersama Arine. Biarkan mereka
memilih kamar yang mereka mau untuk ditempati,”
Arine. Ya. Siapa yang tidak mengenal dia. Anak itu sebaya denganku,
tetapi punya kelebihan. Dia pintar, manja dan cantik. Orang tuanya yang
kaya raya membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Semua yang
diinginkannya selalu dipenuhi. Di depan orang tuaku atau orang lain, ia
adalah gadis manis yang penuh sopan santun. Tapi di depanku, ia adalah
anak yang sombong dan licik.“Kenapa harus memilih? Biar saja mereka
tidur di kamar sebelahku.” tukasku kesal.
Ayah menatapku. “Rafy, dengarkan ayah. Pamanmu yang menemukan rumah
besar ini. Pamanmu yang meminta pemilik rumah ini agar harga jualnya
dipotong sehingga tidak terlalu mahal. Dan pamanmu juga yang membayar
setengahnya.” Ayah diam beberapa saat, memperhatikanku lekat-lekat.
“Mereka adalah tamu istimewa kita. Jadi jaga sikapmu ketika mereka
datang. Kalau kau berbuat yang tidak-tidak lagi, ayah yang menentukan
hukumannya. Mengerti?”
Dan malamnya mereka benar-benar datang. Ayah dan ibu mempersiapkan semua
ini dengan matang. Makanan mewah dihidangkan di meja makan yang panjang
dan besar itu. Semua ruangan dipel, dan Kak Dona mengenakan baju
terbaiknya.
Sialnya, Arine memilih kamarku untuk ditempati.
* * *
Aku terpaksa tidur di kamar menyeramkan itu hanya dengan satu buah
matras, selimut tipis dan sebuah bantal yang keras. Menyebalkan. Arine
hanya tersenyum puas sambil bertolak pinggang saat ia memilih kamarku
dan melihatku merengut karenanya.
Malam tiba. Seperti biasa, aku tidak bisa tidur. Lampu tidak kumatikan,
dan kubiarkan selimut membungkusku hingga ke hidungku. Aku tetap
terjaga. Rasanya waktu berputar cepat sekali. Pukul 9, pukul 10, pukul
11. Dan aku tetap tak bisa tidur. Telinga kupasang baik-baik. Tetapi
saat itu sama sekali tak ada suara apa-apa. Satu jam pun berlalu. Tidak,
tidak satu jam. Tetapi pukul 11 lewat 59 menit 55 detik. Jam dinding
terus kuperhatikan dan kuhitung detiknya. 56, 57, 58, 59 … Dan saat itu,
lonceng jam di ruang tamu berdentang keras. Itu sedikit membuatku
terkejut. Aku benar-benar tak percaya. Ini-lah pertama kalinya dalam
seumur hidup aku tidak tidur hingga pukul 12 malam.
Tiba-tiba sesuatu terjadi.
Lampu kamarku dalam sekejap mati, dan aku sangat ketakutan. Aku berlari
menghampiri pintu dan berusaha membukanya. Tetapi tidak bisa. Terkunci!
Padahal pintu itu tak ada kuncinya sama sekali. Aku terus memaksa
membukanya dan menggedor-gedor pintunya.
“Tolong!” teriakku panik. “Tolong aku! TOLONG!”
Di sekelilingku benar-benar gelap, hitam, dan hanya sedikit cahaya yang
masuk melewati jendela besar di sana. Aku tak henti-hentinya menggedor
pintu. Pikiran-pikiran tentang makhluk halus atau hantu mengiang di
pikiranku.
Aku diam sebentar dan mengatur nafas. Anehnya, Paman dan Arine yang
tidur di sebelah ruangan tidak mendengarku sama sekali. Ayah, ibu atau
Kak Dona pun tidak datang menghampiriku, padahal teriakanku sangat
keras.
Saat diam beberapa detik, tahu-tahu lampu sudah menyala kembali. Aku
tersentak kaget. Tapi anehnya, lampu di ruangan itu sangat pudar dan
berwarna kuning. Padahal sebelumnya lampu berwarna putih terang. Aku
masih menghadap ke pintu, berjalan mundur perlahan-lahan ke belakang.
Debu dan sarang laba-laba menghiasi setiap sudut tembok, membungkus
lemari dan peralatan yang ada di sana. Lantai yang kupijak sangat kotor
dan berpasir. Aneh sekali. Aku merasa seperti berada di masa lampau.
Masih dengan keheranan, aku berbalik menghadap jendela besar. Tiba-tiba
ada sesuatu yang hampir membuat jantungku lepas. Ada sesuatu yang
membuat urat nadiku hampir putus, membuat kakiku bergetar hebat
karenanya. Mulutku menganga lebar, mataku terbelalak. Aku seperti
disambar petir.
Ya. Di sana, di jendela itu, sebuah sosok anak perempuan seumuranku
tergantung melayang dengan tali tambang melilit di lehernya. Dia
menghadap ke arahku. Gadis itu memakai baju daster hingga ke lututnya.
Seluruh tubuhnya berwarna putih pucat, rambut hitamnya yang panjang
sebahu tergerai menutupi sebagian wajahnya. Tetapi dapat kulihat dengan
jelas; matanya melotot lebar seolah-olah akan keluar.
Mulutnya terbuka sedikit, dan darah mengalir lembut melalui hidung dan
mulutnya. Kakinya yang tel***ang bergelantungan dan bergerak sedikit
ketika ada angin kencang menerpa.
Aku menjerit kencang sekali. Ini bukan rumahku. Ini bukan ruangan itu.
Kubawa kaki ini berlari menghampiri pintu dan memaksa tanganku membuka
pintu itu. Tetapi pintu tetap terkunci. Aku panik. Sangat panik.
“AYAH! IBU! TOLONG AKU!!”
* * *
[29 Februari 1992]
“Tolong aku … “
Di sudut ruangan itu, Lyssa merapatkan kedua lututnya, menunduk, dan
menangis lagi. Sudah lebih dari seminggu ia disekap di dalam kamar
kosong tanpa ada yang menemani seorang pun. Hanya dua buah obor yang
terpajang di dinding, menyinari sedikit ruangan itu. Cahaya bulan
merembes masuk melalui jendela besar di belakangnya.
Sudah banyak korban berjatuhan. Dan yang mengalami pasti selalu anak
perempuan. Dan kini, Lyssa pun ikut terpilih. Semula ia tak terlalu
mengerti hal itu, namun ketika ada sekelompok pria tak dikenal
menawarkan permen dan boneka, Lyssa terbujuk dan menuruti perintah
pria-pria itu. Lyssa dibawa ke suatu tempat yang jauh sekali dari
rumahnya. Ia disuruh masuk ke dalam sel yang penuh dengan jeruji—mirip
seperti penjara. Di sana, banyak sekali anak-anak perempuan seumurannya
yang sedang duduk membungkuk. Wajah mereka sangat memelas, seolah tidak
ada harapan yang akan menyelamatkan mereka dari kengerian itu. Mereka
semua sangat kurus dan cekung.
Dan inilah awal malapetaka yang dialami Lyssa. Gadis cantik itu harus
menerima siksaan yang amat sangat menyakitkan. Ia tidak bisa bertemu
dengan kedua orang tuanya—padahal di kejauhan sana, orang tua Lyssa
sangat panik mengetahui anaknya hilang. Sirine mobil polisi terdengar di
mana-mana. Sementara surat kabar tak henti-hentinya menampangkan berita
itu; “Penculikan Anak Terus Berlanjut”.
Satu per satu anak di dalam ruangan itu dipanggil dan dijual ke luar
negeri. Lyssa tidak tahu tentang itu. Yang ia tahu, pasti anak yang
dipanggil akan dibawa pergi ke tempat yang sangat jauh, dan di sana akan
dijadikan budak dan disiksa terus-menerus.
Dan sekarang—tepatnya tanggal 29 Februari, tinggal Lyssa yang terakhir
berada di sel itu. Keheningan malam sangat mencekam dan menyiksa
dirinya. Baju daster se-lutut sudah dipakainya selama seminggu. Ia juga
menggigil kedinginan. Angin kencang terus menerpa hingga tulang-tulang
kurusnya.
Sebelumnya, Lyssa dan beberapa anak lainnya sudah berusaha untuk kabur.
Mereka dengan susah payah membuka jendela besar yang digembok dan
dirantai. Tetapi suatu kali mereka berhasil. Mereka bisa membuka jendela
itu, namun ketika melihat ke bawah, hanya sungai kotor dan hutan yang
tampak. Belum lagi ketinggiannya mencapai beberapa meter, dan anak-anak
itu terlalu takut untuk meloncat ke bawah. Pada saat itu juga, angin di
luar berhembus kencang hingga membanting jendela besar itu. Suaranya
sangat keras seperti gempa. Salah satu pria yang ada di bawah langsung
berlari menaiki tangga dan memarahi anak-anak itu.
Tiba-tiba Lyssa berpikir, apa yang harus ia lakukan agar ia tidak
seperti anak-anak lainnya. Bagaimana cara agar ia dapat menghindar dari
semua itu. Ia sangat marah. Marah pada dirinya. Seharusnya, anak berumur
10 tahun sudah bisa menjaga diri sendiri. Ia menyesal kenapa tidak
memikirkan baik-baik nasihat orang tuanya. Dan juga anak-anak lainnya.
Mereka semua sangat bodoh dan tolol.
Malam itu, Lyssa mengamuk-ngamuk sendiri. Ia menangis, menendang-nendang
tembok, meloncat-loncat, mendumel sendiri, dan berteriak-teriak seperti
orang gila. Tiba-tiba ia melihat sejumput tali tambang di sudut
ruangan. Tangisnya mendadak berhenti. Ia berpikir, ia pasti bisa
melakukan sesuatu dengan tali itu. Pasti. Lyssa tersenyum, dan tertawa
terbahak-bahak. Ia terus tertawa sambil berjalan mengambil tali itu.
Kemudian ia perhatikan paku yang sudah berkarat yang terpajang di atas
jendela besar. Tawa Lyssa meledak lagi.
Gadis malang itu mengambil kursi kayu dan menyimpannya di dekat jendela.
Setelah menaikinya, ia mengikat tali tambang pada paku dengan sangat
erat. Lalu di ujung lainnya, ia membuat simpul tali melingkar seperti
sebuah lingkaran. Kemudian ia berbalik dan memasukkan tali itu ke
lehernya. Ia pun membiarkan dirinya bergelantungan di jendela itu,
membiarkan nyawanya lepas dari tubuh mungilnya.
* * *
Kejadian itu lalu terus terjadi setiap 4 tahun sekali di bulan Februari.
Dan bangunan tempat penjualan anak itu pun sudah dibersihkan dan
dijadikan sebuah rumah megah. Tetapi jendela besar tetap terpasang rapi
di dinding, tanpa meninggalkan sedikitpun sisa-sisa luka seorang anak.
Dan setiap ada anak perempuan berumur 10 tahun berada di bangunan itu
saat tanggal 29 Februari, ia akan ikut merasakan penderitaan seperti
yang pernah dialami Lyssa.
* * *
[29 Februari 2000]
Aku tersentak kaget. Nafasku tersengal-sengal, peluh berkucuran di
keningku. Kulihat sekelilingku. Aku masih duduk di atas matras, dengan
selimut tipis dan bantal keras. Lampu di ruangan itu masih berwarna
putih terang, dan sama sekali tak ada debu atau sarang laba-laba di
sana. Lantainya juga bersih tidak berpasir. Aku bernapas lega. Apakah
ini semua hanya mimpi? Yang kuingat, terakhir kali aku memukul-mukul
pintu dan memanggil ayah dan ibuku.
Kugali lagi isi pikiranku. Di dalam mimpiku, aku melihat penderitaan Lyssa. Aku melihat bagaimana sosok gadis itu.
Dan aku mengerti.
Komentar
Posting Komentar