Kumpulan Novel: I'LL WAITING FOR YOU
melingkari leherku. Dengan cepat aku mengambil tas dan payung
transparanku keluar kamar asramaku. Di luar hujan sangat deras. Aku
membuka payung dan berlari keluar untuk mencari taksi. Hari ini aku akan
menemui seseorang di sebuah bandara, seseorang yang belum pernah
kutemui sebelumnya. Aku mengenalnya melalui situs jejaring sosial. Dia
pria yang menyenagkan, umurnya 26 tahun, 5 tahun di atasku. Sayangnya ia
tidak pernah memasang foto dirinya di sana dan menurut khayalanku, ia
adalah seorang pria yang tampan, tinggi, dan putih, mengingat bahwa ia
mengaku dirinya adalah keturunan chinese, sama denganku.
Setelah
kurang lebih satu tahun aku mengenalnya, aku merasa aku mulai
menyukainya, bahkan bisa dibilang aku jatuh cinta padanya. Konyol,
memang, tapi aku tau hatiku tidak pernah berbohong. Kami tinggal di kota
yang sama, tapi aku tidak pernah sekalipun menerima ajakannya untuk
bertemu. Aku takut kecewa, takut bila semuanya tidak sesuai dengan
harapanku, takut dia juga tidak menyukaiku dan hubungan kami akan kandas
begitu saja. Dia memaklumi alasanku untuk tidak menemuinya. Aku senang
ia mau memahamiku.
![]() |
| I’ll Waiting For You |
Namun kemarin saat kami sedang mengobrol di chatting, kabar buruk itu
datang secara mendadak. Pria itu bilang bahwa ia akan keluar negeri
untuk waktu yang lumayan lama dan kemungkinan kami untuk sering ngobrol
pun akan berkurang. Aku sedih sekali mendengarnya, aku ingin sekali
bertemu dengannya untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Oleh karena
itulah aku memutuskan untuk menyusulnya ke bandara hari ini. Aku juga
sudah memberitahunya hal ini dan ia sangat antusias dengan keputusanku
ini.
Sialnya hari ini aku bangun kesiangan. Pesawat akan
berangkat pukul 11 dan aku baru bangun pukul 10. Dengan cepat aku mandi,
mungkin mandi tercepat yang pernah kulakukan dan langsung berangkat ke
bandara. Dan di sinilah aku berada, di dalam taksi yang tengah melewati
jalanan yang ramai menuju bandara. Hatiku sangat gelisah. Aku terus saja
memandangi jam tangan, sebentar lagi pukul 11 dan aku masih setengah
perjalanan.
Singkat cerita, aku sampai di bandara pukul 11.15,
pupus sudah harapanku untuk bertemu dengannya. Tapi aku masih berharap
bisa bertemu dengannya, aku berharap pesawatnya akan mengalami delay.
Aku langsung berlari menuju sebuah cafe di mana aku dan dia berjanji
untuk bertemu kemarin. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling cafe,
berusaha mencari sosok pria yang kucari, walaupun aku belum pernah
bertemu dengannya, tapi aku berharap instingku bisa diandalkan kali ini.
Begitu banyak pengunjung di cafe itu dan aku tidak tau pria itu di
mana.
“Ada yang bisa saya bantu?” seorang wanita pelayan cafe menghampiriku.
“Ah, aku sedang mencari seseorang.”
“Apakah anda yang bernama Xiao Ling?”
“Ah iya! Dari mana anda tau?”
“Tadi ada seorang pria yang menitipkan pesan bahwa ia sudah harus pergi ke ruang tunggu pesawat dan ia menitipkan surat ini.”
Aku kecewa dan kakiku langsung lemas. Sudah terlambat, aku tidak bisa lagi menemuinya.
“Tapi
tadi saya dengar pesawat yang ditumpangi pria itu mengalami delay
setengah jam. Anda pasti mengharapkan seperti itu bukan? Pria itu juga
berharap begitu, tadi ia mengatakannya padaku.”
“Benarkah?”
“Pergilah.”
“Apa?”
“Kejar dia. Mungkin dia masih ada di ruang tunggu pesawat.”
Aku mematung sejenak kemudian tersenyum gembira.
“Baiklah, terima kasih!”
Aku
pun berlari sambil menangis. Aku sungguh berharap aku masih sempat.
Sambil menggenggam surat darinya, aku tidak berhenti berlari.
Sesampainya di ruang tunggu aku mengedarkan padanganku. Aku terus berdoa
dalam hati, kembali mengandalkan instingku untuk mengenalinya. Aku
menutup mata, meminta bantuan Tuhan untuk menemukannya. Tapi saat kubuka
mataku dan kembali memandangi seluruh ruangan, aku belum juga
menemukannya. Ya, Tuhan, yang mana dirinya? Mengapa susah sekali
mengenalinya? Kenapa dia tidak pernah memasang fotonya di situs sosial
itu? Dasar bodoh!
Tiba-tiba saja mataku tertuju pada satu titik.
Ada seorang pria tidak jauh dariku yang sedang memainkan ponselnya
dengan serius. Sesekali ia mendekatkan ponsel itu di telinganya. Pria
itu tampak gelisah. Wajahnya putih dan tampan, sesuai dengan khayalanku
tentang pria yang kukenal itu. Lalu aku tersadar. Ponsel! Mengapa aku
begitu bodoh? Sekarang aku hidup di jaman apa?! Aku kan bisa menghubungi
ponselnya. Bodoh sekali aku.
Aku mengeluarkan ponsel dari tasku.
Ada 20 misscall di sana. Sejak kemarin aku memang men-silent ponselku,
kebiasaanku saat hendak tidur supaya aku tidak terganggu dengan bunyi
SMS di pagi-pagi buta dan aku lupa mengaktifkan nada deringnya lagi
karena bangun kesiangan. Betapa terkejutnya saat kubuka siapa yang
misscall itu. Semuanya dari pria itu. Aku hendak meneleponnya balik saat
tiba-tiba ponselku berdering lagi dan jantungku berhenti berdetak
begitu melihat namanya. Pria itu! Berarti ia belum naik ke pesawat.
Harapanku kembali timbul. Aku berdebar-debar saat mengangkatnya.
“Ha.. Halo..” kataku grogi.
“Hei,
akhirnya kau angkat juga. Kau di mana? Tidak jadi datang? Kau tidak
apa-apa kan? Aku menunggumu dari tadi. Aku khawatir sekali. Kenapa kau
tidak mengangkat teleponku?” nadanya terdengar kecewa dan cemas. Aku
senang ia mengkhawatirkanku.
“A.. Aku bangun kesiangan. Maaf..”
“Syukurlah, aku kira kau kenapa-kenapa. Jadi kau sekarang masih di asrama?”
Aku terdiam. Haruskah aku mengakuinya? Sejujurnya aku masih takut untuk menemuinya, tapi kapan lagi? Ini kesempatan terakhirku.
“Aku.. Aku sudah di bandara.”
“Apa?!
Kau dimana?” suara pria itu terdengar sedikit keras sehingga aku
menjauhkan sedikit ponselku. Seketika itu juga aku melihat pria tampan
tadi berdiri dari kursinya dan melihat-lihat ke sekelilingnya. Jantungku
semakin berdetak cepat. Apakah pria itu yang aku cari?
“Da Dong ge
(kakak laki-laki dalam bahasa mandarin), kau di mana sekarang? Kau pakai
baju apa?” aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Aku sudah di ruang
tunggu bandara. Aku memakai kemeja berwana biru dan celana putih. Hey,
kenapa kau menanyakan hal itu? Kau di mana sekarang?”
“Aku.. Aku sedang melihatmu, ge.. Aku juga ada di ruang tunggu sekarang.”
Ya
benar! Pria tampan itulah yang sedang kucari, dan begitu mendengar
jawabanku pria itu terdiam sejenak. Matanya mengelilingi ruang tunggu
dan kemudian berhenti saat pandangannya terarah kepadaku. Jantungku
berdebar cepat. Da Dong mengenaliku? Benarkah?
“Kau mengenakan gaun coklat dengan syal hitam di lehermu?”
Aku melihat pria itu menggerakkan bibirnya sambil terus menatap ke arahku. Ponselnya masih di telinganya. Aku mengangguk pelan.
“Iya..”
Pria
itu kemudian menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam saku celana. Ia
berjalan menghampiriku. Jantungku semakin cepat berdetak, rasanya ingin
pingsan saja. Pria tampan itu benar-benar Wang Dong Cheng, yang biasa
aku panggil Da Dong. Dialah pria yang selama setahun ini membuat
hari-hariku semakin berwarna. Dialah pria yang kucintai, meski aku tidak
pernah bertemu dengannya.
Semakin dekat ia berjalan, langkahnya
semakin cepat. Perlahan aku menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam
saku gaunku, tepat saat Da Dong sudah berdiri di hadapanku.
“Kau.. Xiao Ling?”
Aku mengangguk. Air mataku sudah tak terbendung. Aku bahagia, akhirnya aku bisa bertemu dengannya.
“Hey,
kenapa kau menangis?” Da Dong menghapus air mataku dengan jarinya yang
hangat. Hatiku senang dan hangat karena sentuhannya.
“Kau.. tidak kecewa bertemu denganku?” aku bertanya dengan hati-hati.
“Kenapa
aku harus kecewa? Kau.. cantik.. Rambutmu.. Kupikir rambutmu panjang
seperti di foto profilmu. Makanya aku tidak mengenalimu tadi.”
“Y.. Ya.. Aku memotong rambutku 3 bulan yang lalu. Itu foto lamaku. Ke.. kenapa? Terlihat aneh?”
“Tidak. tentu saja tidak. Kau.. cantik.. sungguh..”
Aku tersenyum.
“Kau
sendiri? Tidak kecewa bertemu denganku? Kau selalu bilang bahwa kau
takut kalau kita bertemu. Kau takut kecewa saat tau wajahku tidak
seperti bayanganmu kan?”
“Bagaimana kau tahu?”
“Hey, kita sudah
satu tahun berteman. Walaupun aku tidak pernah bertemu denganmu, bukan
berarti aku tidak mengenalmu. Aku tau semua isi hatimu.”
Wajahku memerah. Semua isi hatiku? Apakah dia juga tau bahwa aku menyukainya?
“Jadi? Kau kecewa?” tanyanya lagi.
“Tidak. Sama sekali tidak. Aku senang, sungguh.”
“Karena wajahku tampan? Karena itukah kau senang? Tapi jika wajahku jelek, kau akan kecewa?”
Bukan! Bukan itu maksudku.. Bagaimana mungkin ia berpikir seperti itu?!
“Hahaha..”
tiba-tiba ia tertawa. “Aku hanya bercanda. Aku tau kau tidak akan
kecewa bagaimanapun penampilanku. Kau sudah datang ke sini saja, itu
sudah menandakan bahwa kau serius berteman denganku, tidak peduli
bagaimana wajahku nantinya kan?”
Aku mengangguk cepat. Aku memang
menyukainya, tidak peduli bagaimana penampilannya. Mungkin aku memang
akan sedikit kecewa apabila tidak sesuai dengan khayalanku selama ini,
tapi aku sudah terlanjur menyukainya, mencintainya!
“Kau suka padaku?” pertanyaan yang terlontar dari mulutnya membuatku terbelalak.
“A.. apa?”
“Hahaha.. Kau ini lucu sekali!”
Ugh, ternyata ia hanya mempermainkanku! Aku merengut.
“Ehm.. Maaf.. Tapi.. Pertanyaanku serius. Kau menyukaiku?”
Aku jadi salah tingkah. Wajahku memanas. Haruskah aku mengatakan ya? Tapi jika ia tidak punya perasaan yang sama, bagaimana?
“Sayang sekali bila kau tidak menyukaiku. Berarti aku baru saja patah hati.”
“Apa?” Maksudnya? Dia..?
“Aku
menyukaimu. Ehm.. Aku mencintaimu.” Da Dong memandang mataku dengan
tatapan yang sangat dalam. Wajahku kembali memanas, pasti sekarang
wajahku sudah memerah sekarang.
“Kau menyukaiku?” aku bertanya ragu.
“Ya..”
Da Dong menggaruk kepalanya dengan salah tingkah. “Mungkin ini
terdengar bodoh, padahal aku tidak pernah bertemu denganmu, tapi setiap
kali aku ngobrol denganmu di telepon, atau bahkan melihat namamu sedang
online, hatiku berdebar, aku senang sekali, ingin selalu berbagi cerita
denganmu dan mendengar semua kegiatanmu. Semua ceritamu itu membuatku
merasa, kau adalah wanita yang ceria. Walau mood-mu gampang berubah,
tapi aku menyukainya. Aku.. menyukaimu.”
“Kau.. Kau tidak bodoh..” aku akhirnya berani bersuara. “Karena aku.. merasakan apa yang kau rasakan.” kataku perlahan.
“Benarkah?” Da Dong tersenyum lebar, matanya berbinar-binar, membuatku ingin sekali memeluknya.
Aku mengangguk pasti.
Da
Dong memelukku dengan cepat. Membuatku sedikit terkejut karena baru
saja aku berpikir ingin memeluknya. Kami berpelukan lama sekali, tidak
peduli semua mata tertuju pada kami.
“Pesawat _______ akan segera
berangkat. Diharapkan semua penumpang memasuki pesawat.” informasi itu
membuat hatiku mencelos. Inikah saatnya aku akan berpisah dengan Da
Dong? Secepat ini?
“Xiao Ling.” Da Dong berbisik di telingaku, kami masih saja berpelukan.
“Ya?” aku berusaha tegar, air mataku sudah mengumpul di pelupuk mata tapi aku menahannya.
“Maukah kau menungguku? Tiga tahun. Apakah terlalu lama?”
“Tentu saja tidak. Aku akan menunggu.” Jangan pergi! Aku ingin sekali meneriakkannya.
“Aku akan berusaha menghubungimu kapanpun aku sempat.”
“Take your time, ge. Jangan mengkhawatirkanku. Jaga dirimu ya.”
“Kau juga. Aku akan segera kembali. Aku janji.”
Da
Dong melepas pelukannya dan mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah
kotak beludru berwarna merah. Ia membukanya dan tampaklah sebuah cincin
yang sangat indah.
“Maukah kau memakainya? Mungkin ini bukan cincin
mahal yang pantas kuberikan padamu. Tapi aku janji, tiga tahun lagi aku
akan kembali dan menukarnya dengan cincin yang lebih indah dari ini,
dengan namaku terukir di dalamnya..”
Aku mengangguk. Air mataku pun mengalir.
“Jangan
menangis. Oke?” Da Dong menghapus lagi air mataku dan memakaikan cincin
itu di jari manis kananku. Kemudian mencium keningku.
“Sampai
jumpa.” katanya lalu mengambil kopernya. Menatapku sejenak, tersenyum
dan melambaikan tangan sambil melangkah menuju pesawat. Aku pun membalas
lambaian tangannya dengan senyuman.
Aku akan menunggumu, Da Dong ge. Aku janji. Sampai jumpa! Wo ai ni ♥

Komentar
Posting Komentar