Kumpulan Novel: GOMBAL VS GALAU

Gombal VS Galau
“Bunda, Melia
berangkat dulu ya” (beranjak dari teras langsung berjalan mencari Bunda
untuk pamit dan mencium tangannya) ribet nggak dibayangin? Intinya
begitulah.
“Iya, sering-sering berangkat pagi Mel” kata Bunda sambil melihatku menuju motor.
“Jamnya tadi mati Bun, Melia kira udah telat” jawabku sambil menoleh kepada Bunda
“ohh…jangan
dibelikan baterai ya Mel! Biar kamu berangkat pagi terus” kata Bunda
sambil tersenyum. “yahh….itu sih efek 2M bun” Jawabku sambil nyengir.
“apa lagi tuh kepanjangannya Mel?” Tanya Bunda penasaran. “makan dan
mandinya Melia ‘kan lemot, Bun” Jawabku polos. “hahaha…..kamu sadar
sendiri, ya sudah berangkat sana” jawab Bunda dengan ketawa kecilnya.
“Siap Bunda!” Jawabku.

***
Setelah sampai disekolah, suasana
yang sangat jarang aku temui. Para siswa masih bisa dihitung dengan jari
telunjukku alias belum ramai. Selama perjalanan ke kelas, aku asyik
mendengarkan lagu Bondan Prakoso disusul Jamrud pada I-podku. Semakin
dekat dengan kelas, dari celah jendela terlihat Vita teman sekelasku
sedang sibuk piket kelas hari ini.
“Selamat pagi, Vita” Sapaku dengan
senyum merekah. “Tumben berangkat jam segini, Mel” Kata Vita sambil
nyengir. “Yahhh…..jawab sapaku dulu kek” kataku dengan nada kesal.
“Uppss….Sorry! Good Morning Melia” jawab Vita dengan gaya Britishnya.
“haduuhh…..Vita, Vita….turun pamor kalau kamu ngomong English. Bedo’
Jawamu itu lohh masih kental banget. Whuahahaha” Ledekku pada Vita.
“yahh…terserah kamu saja Mel.” Jawab Vita dengan nada kesal.

Jam terus berputar! uppss…..maksudku waktu terus berputar. Semakin lama,
semakin banyak kaki yang berjalan menuju kelas masing-masing untuk
menimba ilmu (bukan menimba air ya! Itu beda lagi). Sementara aku sangat
menikmati pemandangan disekitar sekolah yang penuh penghijauan sambil
duduk di depan kelas dan sibuk mengutak-atik I-podku.

Yo’ Ku jelang matahari dengan segelas teh panas
Di pagi ini ku bebas, karena gak ada kelas
Di ruang mata ini, kamar ini serasa luas
Letih dan lelah juga, lamba-lambat terkuras
Teh sudah habis, kerongkonganku pun puas
Mulai kutulis semua kehidupan di kertas
Hari-hari yang keras, kisah cinta yang pedas
Perasaan yang was-was dan gerakku yang terbatas
Reff: Tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi, agar semua terjadi
Rasakan semua, peduli ‘tuk ironi tragedy
Senang bahagia, hingga kelak kau mati

Aku
ikut bernyanyi setiap lagu pop asli Indonesia yang kudengar dari
I-podku. Tiba-tiba kudengar suara: Tuttt….Tuuttt…..Tuuttt….(bukan suara
kentut, tapi bel masuk sudah berbunyi). Aku segera bergegas ke kelas,
sebelum pelajaran dimulai. Kami sarapan rohani terlebih dahulu atau
membaca do’a agar Tuhan juga membantu perkembangan Ilmu kami.


Yap…..15 menit berlalu. It’s time to study. Pelajaran pertama
kebetulan gurunya sedang ada pelatihan diluar kota, jadi kelasku
mendapat pesan untuk mengerjakan latihan soal yang ada di buku paket
masing-masing. Di tengah mengerjakan soal, aku baru sadar ada temanku
yang sedang asyik diam, melamun, dan melototin buku paketnya doang.
Namanya Raisha, biasanya dia selalu meramaikan kelas dengan kejailannya
bersamaku. Tapi, sayang sekali hari ini dia hanya diam. Aku berharap dia
bukan sakit gigi, biasanya kalau sakit gigi ‘kan jarang bicara.


Hampir 1 jam berlalu, kelas ku sangat-sangat sunyi, sepi, dan hening
layaknya kuburan. Akhirnya kursi paling belakang ada yang nyeletuk
nyanyi lagu-lagu pop (bukan kursinya yang nyanyi ya, tapi temanku yang
duduk di kursi paling belakang) dan teman-teman termasuk aku juga ikut
bernyanyi untuk memecah suasana serius kami karena soal-soal tersebut.
Tetapi, Raisha masih saja terdiam tanpa respon sedikitpun. Kemudian,
Vita teman sebangkunya mencoba bertanya keadaannya, tetapi Raisha tetap
‘tak menggubris. “sepertinya Raisha sedang galau” tebakku dalam hati

Karena
penyakit penasaran plus jailku lagi kambuh, aku coba memberanikan diri
untuk jailin dia. Tapi jailnya bukan ikat tali sepatunya atau mainin
penghapus whiteboard yang biasa akku tempelin di tangan teman-teman.
Kalau itu yang aku lakuin, maka niat aku untuk menghibur malah salah
jalur nanti. Hari ini jailku beda, spesial untuk Raisha partner Jail
dikelasku. Cukup lama aku mikir, nggak tau kenapa langsung dapat wangsit
buat ngegombal aja. Siapa tau ampuh buat memberantas kegalauannya.
Akhirnya aku tutup buku, dan beranjak untuk menghampiri Raisha dan duduk
disampingnya. Kebetulan Vita lagi nabung di toilet (Gubrak).
“Ehemm..Ehemm..Sha,
buku siapa ini? Keren sampulnya” kataku memulai pembicaraan. “Milikku,
Mel” Jawab Raisha singkat tanpa menoleh sedikit pun. “Wahh…indah ya,
seindah parasmu” kataku sambil nyengir. Tiba-tiba Vita langsung
menghampiriku dan berkata “Emangnya wajah Vita mirip sampul ya?”. “Iya,
sampul hatiku. Udah selesai kamu nabung?” tanyaku. “udah..lega rasanya!
Hehe” jawab Vita. “selega hatiku jika melihat Raisha tersenyum merekah
kembali ‘bak mawar merah” kataku menggombal lagi. “wahh….parah nih,
cewek digombalin juga sama Melia” kata Vita dengan wajah curiga.
Tiba-tiba Raisha menoleh dan langsung memegang dahiku dengan punggung
tangannya. “suhu tubuhmu nggak panas, whuahahaha…Mel, Mel kebanyakan
nonton Fesbukers kamu ya? Gombalan kamu buat perutku nggak bisa nahan
ketawa” kata Raisha sambil memegang perutnya. “gitu dong ketawa! Kenapa
sih kamu tadi diam aja?” tanyaku penasaran. “ohhh…..galau gara-gara
Revan cowokku” jawab Raisha dengan santainya.

Setengah jam Aku dan Vita sempatkan waktu mendengarkan curhatan
Raisha. Ternyata galau karena diselingkuhin. Hmmmm…..zaman sekarang
pacar nggak cukup satu. Jadi, Aku sih nggak mau repot mikirin soal
playboy atau playgirl. Karena karma itu masih berlaku, bisa dibilang
hukum sebab-akibat kata guru fisika. Karena setelah putus dari Raisha,
si Revan malah diselingkuhin sama pacar pertamanya dan dia juga harus
pindah sekolah karena orang tuanya terancam bangkrut. Apes banget
hidupnya. Tapi dari kegalauan yang dirasakan Raisha, aku bisa tau kalau
hadiah atau kata-kata motivasi memang bisa melawan galau. Tapi yang
lebih ringan tanpa ngerepotin diri sendiri itu adalah “ngegombal”. Ada
kesan tersendiri digombalin begitu.
***

Keesokan harinya Raisha malah gantian ngegombalin aku dan dia enjoy setelah mutusin Revan.
“Mel,
kamu tau nggak perbedaan kamu sama matematika?” Tanya Raisha padaku
sambil menjambret I-podku untuk mengecilkan volumenya. “nggak tau,
emangnya apa?” tanyaku penasaran. “kalau matematika semakin dipelajari
semakin buat aku pusing, tapi kalau pelajarin kehidupan kamu semakin
buat aku nambah cinta” jawab Raisha dengan ekspresi serius.
“whuahahaha…..ueekkk nggak mempan gombalannya mbak’e” ledekku.
“dasaar…coba balas gombalanku” tantang Raisha kepadaku. “Okay, aku mikir
dulu. Nahhh…ada nih! Dengerin baik-baik ya. “kataku dengan serius. “ya
aku dengerin, emangnya apa?” Tanya Raisha. “Kamu tau nggak persamaan
kamu sama I-podku?” Tanyaku. “emangnya apa persamaannya?” Tanya Raisha
penasaran. “I-podku ini sudah lama aku bawa kemana-mana dan aku nggak
bisa hidup tanpa dengerin musik, sama seperti kamu yang selalu aku
pikirin kemanapun aku pergi karena kamu itu hidupku”. Jawabku dengan
nada puitisasi. “wahh…kereenn…kereenn…kamu menang deh, Mel.” Kata Raisha
sambil bertepuk tangan. Tiba-tiba Vita yang baru datang langsung
bernyanyi untuk Raisha. “Sha, ini lagu buat kamu”

Hidupku sangat sempurna
menikmati hidup yang aku punya
berteman dengan siapa saja
I’m single and very happy

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rebah Di Tirai Cinta ( Bab 22 )

Rebah Di Tirai Cinta ( Bab 24 )

NOVEL CINTA TERLENGKAP: Makluman