KU PENDAM LARA SENDIRI
KU PENDAM LARA SENDIRI
Yaa Rob! Apa yang terjadi? Haruskah aku? Entahlah,semenjak itu aku punya kebiasaan baru, menangis didalam kamar mandi, meluahkan kekesalanku, melampiaskan kekecewaanku serta meredakan amarahku.6
…
*flashback
Hari ini aku sengaja membuat janji dengan teman chattingku. Ya, kami janjian bertemu di salah satu toko yang sering aku kunjungi. Aku penuhi Ajakan Ahmad untuk bertemu hanya karna aku ingin memenuhi rasa penasaranku. Ya, nama teman chattingku itu Ahmad dan berstatus duda beranak satu, sebab statusnya itulah yang membuat aku tertarik menerima ajakannya untuk bertemu. Dalam bayanganku dia adalah seorang Om2 yang sedang mencari istri, tapi dari foto yang dikirim Oleh Ka Lili yang memperkenalkan Ahmad denganku terlihat seperti pemuda biasa yang belum paruhbaya, “Ah,siapa tau itu foto lama, sepuluh tahun yang lalu atau belasan tahun yang lalu” fikirku.
Aku berangkat dari rumah jam 4 sore, sebenarnya kami janjiannya jam 5 sore. Aku sengaja berangkat lebih awal biar bisa leluasa membeli peralatan ditoko tempat kami ketemuan nanti, karna aku bakalan gerogi kalo ada cowok saat aku bebelian.
***
Aku sudah sampai ditoko yang kami maksud. Aku cek HP, belum ada chat dari Ahmad, “bagus!”fikirku, biar aku leluasa memilih2 barang yang ingin aku beli. Aku juga memberikan syarat saat kami mengatur janji, aku setuju untuk bertemu dengan syarat Ahmad tidak boleh menyapa aku apa lagi mendekati dan mengobrol, aku bilang, kita boleh saling lihat jarak jauh saja, Ahmad menyetujui, itulah sebabnya pertemuan hari ini terlaksana.
Jam 5 sore. Aku sudah selesai dengan belanjaanku tapi tak ada chat Ahmad pun yang masuk pada Whatsappku. Aku pun mengirim chat untuk Ahmad, aku tanya Dia dimana. Dia bilang masih ditoko. Ya,Dia adalah karyawan sebuah toko. Tokonya memang agak jauh dari tempat kami janjian.
Aku berjalan kesebelah toko, berfikir untuk menunggu disini saja. Lama sekali rasanya aku menunggu. Ahirnya aku kirim chat pada Ahmad yang isinya “maaf,aku mau pulang udah kelamaan nunggu”. Sembari menulis chat dari kejauhan aku melihat sosok lelaki yang memperhatikan kearahku. Aku tak nyaman dan langsung membalikkan badan membelakangi, dan chat akupun berhasil terkim pada Ahmad. Tiba2 dari belakangku sayup terdengar suara menyapaku “Nur, apa kamu yang bernama Nur?”. Sontak aku langsung berpaling menoleh kearah suara itu, betapa terkejutnya aku ketika orang yang memanggil aku adalah orang yang dari tadi memperhatikanku. Aku langsung gugup, takut, dan salah tingkah. Dengan sigap aku menjawab “iya Aku Nur, ya udah, karna udah saling tau… jadi aku mau pulang duluan ya” jawabku tergesa2 sambil melangkah cepat menuju tempat parkir.
“Kok langsung pulang?” Tanya Ahmad bingung sambil menggiringku dari belakang.
Aku tetap acuh sembari meneruskan langkahku menuju tempat parkir.
Tidak ada kesan apapun bagiku di pertemuan itu. Namun aku juga tidak menjauhi ahmad setelah pertemuan itu.
Semuanya berjalan seperti biasa, hubungan pertemananku dengan Ahmad tetap terjalin baik, bahkan Ahmad semakin sering menghubungiku.
Beberapakali Dia mengajakku keluar, entah mengajakku makan atau skedar bertemu tapi tidak pernah sekalipun aku mengiyakan ajakannya.
Aku memang tahu maksud Ahmad mendekatiku, beberapa kali Dia mengatakan maksudnya itu. Dia ingin menikah dan mencoba mengajakku untuk mau menikah dengannya. Namun aku tak punya perasaan apa-apa pada Ahmad, bahkan aku tak menyukainya, apalagi Dia seorang duda ” masa aku menikah dengan duda, apa kata orang2″ begitu fikirku.
***
Waktu terus berputar, hari terus berjalan.. memang benar Tuhan maha membolak balikkan hati.
singkat cerita, aku mulai nyaman chathingan dengan Ahmad, setiap hari ponsel ku diwarnai oleh chat yang masuk dari Dia. Rasa ilfeel yang tadinya bersarang di otak ku kini memudar, bahkan perasaan yang dulunya tak pernah aku inginkan kini sedikit demi sedikit mulai membesar. Ya, aku mulai berfikir untuk menerimanya.
***
Aku mulai mencari tahu siapa Ahmad, aku juga mulai curhat kepada beberapa sahabat ku, sebagian ada yang mensupport ku dengan Ahmad, katanya gak usah memikirkan statusnya, toh yang ngejalani kamu bukan orang lain. Tapi sabagian lagi ada juga yang melarangku untuk berhubungan dengan Ahmad, katanya Ahmad suka mempermainkan wanita, suka selingkuh. Semua itu membuat aku makin ragu.
Tetapi semakin hari aku semakin melihat kesungguhan Ahmad, semua opini buruk tentang Ahmad tak pernah akun simpan.
Aku percaya Ahmad orang baik, dan mampu menjadi imam yang baik untuk ku, tentang masalalunya yang pernah gagal itu bukan krna Dia orang jahat, buruk, atau tak mampu menjadi imam yang benar, hanya saja itu semua karna mereka tak berjodoh. Begitu fikirku.
…
Aku sudah mantapkan hati untuk menerima Ahmad menjadi suamiku. Dikala semua sudah kuyakini tak kusangka lelaki yang dulu pernah ku harapkan keseriusannya, yang pernah ku pegang janjinya, dan ku tunggu2 lamarannya kini hadir lewat sapaan manis di chat whatsap. Singkat namun membuat hatiku bergetar.
Sedikit ragu aku balas juga sapaan hangat dari Azwan itu. Ya namanya Azwan, masih teringat jelas bagaimana dia banyak memberiku harapan namun menghilang entah kemana pada ahirnya. Lalu hari ini Dia kembali disaat aku sudah yakin pada satu hati, pada Ahmad.
***
Singkat cerita. Setelah bagitu banyak pertimbangan, ahirnya Aku terima lamaran Ahmad. Banyak orang yang terkejut tentang kami tetapi proses tetap berjalan.
Semua proses telahku jalani dan akhirnya kami menikah.
Aku sempat takut dan bingung. Aku bingung bagaimana aku harus memperlakukan suamiku, aku takut salah. Tetapi semua mengalir hingga rasa canggungku sedikit demi sedikit mulai mencair. Akupun merasakan kebahagiaan menjadi seorang istri, ini pertamakalinya aku merasa menyayangi dan disayangi. Ahmad perhatian, humoris, sehingga mampu menghangatkan suasana denganku yang pendiam. Disaat2 itu Aku merasakan bahagia menjadi diriku.
Namun kebahagiaan yang sempurna itu tak berlangsung lama. Sebagian kebahagian itu runtuh ketika kerabat Ahmad sendiri bercerita kenapa aku bisa menjadi istri Ahmad, bukan Ahmadnya sendiri yang menginginkanku akan tetapi semua atas desakan ibu Ahmad yang ingin Ahmad segera menikah karna mantan istri Ahmad sudah terlebih dulu menikah. “DEG!” Jantungku, “benarkah? Jadi aku tak benar2 di inginkan?” Bisikku dalam hati, namun aku tetap tenang dan tersenyum mendengarkan mereka menceritakan itu. Seolah aku tak percaya.
Namun kerabat Ahmad mengajakku kerumahnya, katanya, kalau ingin tahu lebih jelas kita ngumpul dirumah ka Riri saja kata si leni. “Memangnya ada banyak yang ingin kalian ceritakan?”tanyaku.
“Iya” jawab leni… dia pun memintaku untuk jangan bercerita pada Ahmad ataupun minta izin kerumah Ka Riri.
…
Beberapa hari kemudian, dengan penuh rasa penasaran ahirnya aku datangi juga rumah Ka riri, bersama leni.
Begitu masuk, aku mencoba menguatkan langkahku.
Ka Riri maupun Leni, mereka menceritakan apa yang mereka tahu tentang Ahmad.
Kata leni, bahwa agaknya Ahmad tak benar2 menginginkanku atau mencintaiku, pernikahanku terjadi atas dasar desakan orang tua. Atau bahkan hanya karna Ahmad gelisah melihat mantan istrinya menikah lagi, oleh karna itu Ahmad pun ingin menikah dan kebetulan wanita yang dipilih Ahmad adalah Aku, meski dipilihnya tetapi dia mungkin tidak begitu mencintaiku, karna Ahmad masih mencintai mantan istrinya” kata leni “leni ceritain kayak gini karna leni kasihan sama ka Nur yang tak tahu apa2″ sambungnya.
Ya, jadi Ahmad beberapa kali ingin rujuk sama mantan istrinya, tetapi mantan istrinya gak mau lagi karna sudah tak tahan dengan Ahmad, kata leni.
Ketika mantan istrinya menikah lagi saat itulah ibu Ahmad mendesak Ahmad untuk menikah, dan Ahirnya menikah dengan ka Nur, ucap leni lagi.
Leni dan ka riri juga menanyakan bagaimana perlakuan Ahmad terhadapku,
Aku jawab perlakuan Ahmad baik dan perhatian jawabku. Ka riri pun menambahkan,dulu si Ahmad sangat sayang pada mantan istrinya, apapun yang mantan istrinya inginkan dipenuhi oleh ahmad, apalagi ketika mantan istrinya hamil dia sangat dimanja, apapun yang ingin dimakannya selalu dibelikan oleh Ahmad. Semoga kamu juga disayang Ahmdad ya.”
Aku hanya terdiam mendengarnya, hatiku bergetar, itu hal yang wajar ketika mereka masih suami istri tapi haruskah aku mendengarnya? Haruskah aku mendengar sweetnya mereka saat masih bersama? Kenapa aku merasa sakit mendengar ini semua. Ucapku dalam hati.
Leni pun bertanya,”pernah gak kakak di ajak jalan2?”
“Gak pernah, lagian aku juga kurang suka jalan2″jawabku menenangkan hatiku.
“Oya? Padahal Ahmad gemar jalan2 apalagi kepantai”kata kak riri.
“Berarti kaka sama kak Ahmad berbeda, orang yang berbeda ini biasanya pernikahannya gak bakalan awet” ucap leni.
“Jadi si Nur ini seolah2 cuma dijadikan pelarian saja” kata kak Riri pada Leni.
Lenibmengangguk mengiyakan.
Aku hanya diam sambil menatap sayu mereka.
Dijalan menuju pulang hatiku berkecamuk, perasaan ku sudah tak karuan, serasa ingin sekali menangis meluahkan perasaanku yang sedari tadi sakit.
Sesampainya dirumah aku terkejut melihat motor Ahmad yang terparkir didepan rumah. Ahmad sudah pulang! Batinku.
Ku tata hatiku, aku pun mulai memasuki rumah. Aku takut dia bertanya, aku datang darimana, tapi ternyata dia berfikir aku pulang dari TPA tempat aku mengajar.
Syukurlah…Dia tidak curiga ucapku.
Meski hatiku sedang sakit oleh Ahmad, aku merasa ditipu, dia pembohong, dia berpura2 mencintaiku, aku kecewa, bahkan rasanya aku ingin berteriak memaki2 Ahmad. Tetapi ketika aku dihadapannya, ku tundukkan juga kepalaku, aku sapa dengan senyum seperti biasa, aku tanyakan apa dia ingin makan. Diapun menimpal dengan humornya seperti biasa, aku tertawa meladeni.
Selesai ku siapkan makan Ahmad, aku segera mandi. Didalam kamar mandi aku luahkan kekesalanku, kecewaku bahkan amarahku. Semua ucapan demi ucapan leni dan ka riri kembali membayangiku, aku menangis sejadi2nya meluahkan kekesalanku.
Sikapku pun kepada Ahmad mungkin mulai sedikit berubah, walau aku tak merasa. Karna aku merasa sudah sempurna menutipi isi hatiku.
Hingga esok paginya, tiba saat dimana kami sarapan, aku masih terbayang2 bahwa aku hanya pelarian semata, aku tak benar2 dicintai, krna suamiku masih mencintai mantan istrinya.
Hingga Ahmad menegurku, “kamu mikirin apa?”
Aku sentak kaget, “gak ada apa2” jawabku tertawa.
“Benaran gak ada apa2?”Ahmad memastikan.
Aku pun tertawa kecil, mununjukkan bahwa apa yang disangkakan Ahmad itu sangat lucu. Apa yang harus aku fikirkan? Aku gak punya fikiran.jawabku sambil tertawa.
Ahmad pun percaya dengan sandiwaraku.
…
Hari demi hari aku simpan sakit ini, hanya 3bulan di awal pernikahan aku merasakan bahagia yang sempurna, merasakan dicintai oleh orang yang juga aku cintai. Sesingkat itukah kebahagiaanku? Selebihnya hari2ku diwarnai dengan rasa sabar, menutupi rasa sakit, memendam lara sendiri. Akan tetapi aku tak ingin Ahmad tahu, akupun tak ingin rasa hormatku dan taatku berkurang setelah aku tahu aku tak di inginkan.
Bagaimana pun Dia terhadapku itu menjadi urusan Dia, aku sebagai istrinya tetap ku ingin menjalankan sebagai istri yang mencintai suaminya, melayani suaminya sepenuh hati. Meski sejak hari itu aku lebih sering menangis. Tetapi sikapku akan barubah ceria ketika suamiku berada dihadapanku.
Begitulah setiap harinya, aku sangat sempurna menyembunyikan perasaan lirihku. Hingga hubunganku dengan Ahmad suamiku terjalin baik2 saja.
Sampai ahirnya berita gembira menyelimuti hatiku. aku hamil, kehamilanku ini membuat aku sedikit lupa dengan cerita2 kerabat Ahmad kemaren. Aura positif dari janin yang ku kandung sangat merubah hari2ku. Sekarang, aku tak cuma ceria dihadapan suamiku tapi juga aku ceria disaat sendiri.
Aku menjadi gemar nonton informasi2 tentang kehamilan di youtube, aku sibuk dengan kehamilanku semua itu membuat aku lupa bahwa aku tak benar2 dicintai suamiku, bahwa suamiku masih mencintai orang lain. Aku lupa itu semua. Aku pun merasakan perhatian dari suamiku, dia sangat menjaga kehamilanku. Aku mulai kembali bahagia.
Sampai usia kehamilanku menginjak tiga bulan. Entahlah apa yang terjadi, pagi itu mantan istri Ahmad tiba2 menghubungiku, dia memintaku untuk tidak menghalangi nafkah untuk anaknya, “seharusnya kamu sudah tahu resiko menikah dengan duda beranak, nafkahnya tidak hanya untuk kamu tapi juga untuk anaknya jadi jangan halangi nafkah anakku”tulisnya, aku memahami isi chat itu, mungkin dia mengira aku mencegah Ahmad untuk memberi uang mingguan untuk anaknya. Aku pun membalas dan menjelaskan bahwa aku tak pernah menyentuh urusan pemberian Ahmad kepada anaknya, sebesar apapun itu aku gak ingin ikut campur didalamnya apalagi menghalang2ngi. Karna aku pun gak ingin suamiku lepas dari tanggung jawabnya. Akhirnya Dia mempercayaiku dan memintaku untuk membujuk Ahmad agar kembali memberi nafkah kepada anaknya. “InsyaAllah” balasku.
Dia membalas kembali, yang berisi tentang… kamu harus berhati2 terhadap Ahmad, karna Ahmad itu banyak buruknya dari pada baiknya, bertahun2 bersama Ahmad aku sudah sangat mengenal Ahmad.
kamu tau? Suamimu itu sampai sekarang masih kepo denganku, dengan kehidupanku, kamu tahukan kalo orang masih kepo itu artinya dia masih apa? “Masih sayang,masih cinta, masih berharap ingin bersama”jawabku dalam hati.
Suamimu juga tidak pernah absen membuka sttus whatsap ku, bahkan dia sering liat instagramku diam2” sambung mantan istri Ahmad.
Aku tidak mengerti maksud kata “kepo” yang dia maksud itu seperti apa, namun aku juga tidak menanyakan atau memperjelas nya, mendengar ini saja aku sudah sakit hati.
Aku memintakan maaf atas perlakuan Ahmad yang mungkin membuatnya risih, “oh..begitukah, maafkan Ahmad” balasku singkat.
Dia kembali membalas, kamu harus belajar dari aku, aku sangat mengenal Ahmad, kamu juga hati2, karna dia gemar chattingan dengan cewek bahkan video call. Dia juga menafkahi istri sangat tidak sesuai. Aku ngomong kayak gini karna kasian sama kamu. Kalau kamu mungkin bisa sabar tapi aku dulu tidak bisa sabar. Ucapnya.
Sesakit apapun hati aku saat ini, semarah apa pun aku terhadap Ahmad, dia tetap suamiku, yang harus aku tutupi Aibnya, yang harus aku besarkan namanya, aku banggakan dia dihadapan orang lain.
Hingga Aku menjawab, Ahmad sangak baik memperlakukanku, bahkan sangat perhatian, aku juga sangat percaya pada suamiku. Masalah nafkah, Alhamdulillah semua kebutuhanku terpenuhi, bahkan dari pemberian Ahmad aku masih bisa menabung. Semuanya tidak ada yang membuat aku harus bersabar tapi lebih2 aku malah bersyukur, aku himpal dengan emot malaikat. Karna memang itu yang aku alami, Ahmad memenuhi kebutuhanku setiap harinya dan akupun masih bisa menabung dari pemberiannya.
Tetapi aku sangat berterimakasi karna kamu sudah menceritakan ini semua, aku akan belajar dari pengalamanmu dan akan berhati2. Sambung chatku.
Selesai ku tulis dan terkirim, langsung aku matikan wifi di handphone ku, kemudian aku hapus semua chat dengan mantan istri Ahmad itu. Benar saja, baru saja selesai ku hapus chat itu, Tiba2 Ahmad merangkul bahuku dari belakang, dia mengeluhkan kenapa aku lama sekali didapur, dia sudah tidak sabar minum kopi yang sedari tadi dia minta.
Astagfirullah! Aku belum membikinkan kopinya, jawabku sambil tersenyum merasa bersalah.
Ahmad malah tertawa sambil berkata, dari tadi kamu ngapain?..
Aku pun segera membuatkan kopi yang dia maksud.
Saat sarapan, Ahmad memintaku membuka youtube di HPku, membuka youtube itu artinya aku harus mengaktifkan wifi nya, bagaimana kalau chat mantan istrinya tiba2 masuk, aku ragu tapi aku aktifkan juga wifi di HPku. Tetapi tak ada satupun chat yang masuk di WA ku hingga kami selesai sarapan.
…
Suamiku sudah berangkat kerja, aku masuk kamar dan aku tutup dinding kamar. Aku menangis sejadi2nya meluahkan kesedihanku. Bahkan kali ini mantan istri sumamiku sendiri yang mengatakannya, suamiku masih tak bisa melupakannya, lalu aku ini apa? Bukankah aku hanya pelarian saja, atau hanya penutup kesendirian?. “Jahat!”batinku mengumpat, bantalku basah dengan air mata, ku pegang perutku, aku harap janinku tidak kenapa2 sebab aku menangis. Karna menangis dapat mempengaruhi perkembangan otak janin.
Aku kembali terfikir dengan nasibku, Tuhan..kenapa harus aku… setan mulai memasuki otakku, aku merasa menyesal telah memilih Ahmad karna bukan kebahagiaan yang sempurna yang aku dapatkan melainkan rasa sakit yang setiap hari harusku pendam.
Meski tak ada yang kurang yang diberikan oleh suamiku kepadaku, dia terlihat menyayangiku, perhatian padaku, aku tak mendapatkan bahwa suamiku hanya berpura2 mencintaiku, akan tetapi isi hati siapa yang tahu. Jika banyak yang mengatakannya bahkan orang yang bersangkutannya langsung yang mengungkapkan itu lalu dimana aku harus tak mempercayai bahwa suamiku masih mengharapkan mantan istrinya, dia masih menyayangi mantan istrinya, dia hanya berpura2 bahagia denganku.. air mataku kembali menetes.. kenapa kemarin aku tidak menerima lamaran si A yang masih ada hubungan keluarga denganku, atau si B yang ingin serius melamarku, atau si C yang sedari dulu mengejar2ku, atau…menunggu azwan melamarku walau entah sampai kapan. Setidaknya mereka tak punya masa lalu yang terus membayangi, mungkin aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang aku impikan dari salah satunya. Kenapa aku malah memilih Ahmad yang ku tahu sudah ada satu nama lebih dulu tertulis didalam hatinya.
Astagfirullah! Ucapku lirih..aku gak boleh berfikiran seperti ini. Ini adalah pilihan yang paling tepat, Ahmad pasti lelaki terbaik untukku, aku teringat pesan ustadzku bagaimanapun suamimu, istrimu, anakmu, itu hanyalah ujian. Tugasmu bukan membuangnya atau meninggalkannya apalagi menyesalinya, tetapi menjalani ujian itu dengan cara yang tepat. Otak dan hatiku pun mulai terbuka, mungkin ujianku adalah hati suamiku yang tak mencintaiku. Tugasku saat ini hanyalah tetap taat pada Ahmad, melayani dengan ikhlas.
Tiba-tiba chat masuk dari mukhlis teman baikku, entah kenapa dia menanyakan keadaanku. Mukhlis adalah satu2nya kontak laki2 yang masih tersimpan di HPku,selain keluarga atau rekan kerjaku. Semua kontak laki2 di HP ku memang sudah aku hapus di awal pernikahan.
Aku berbangun, ku seka airmataku, temanku ini seolah2 tahu bahwa aku sedang terpuruk,fikirku. Setan kembali memasuki otakku. Jari jemariku seolah ingin menuliskan keluh kesahku, inginku tulis dan ku adukan bahwa suamiku tidak benar2 mencintaiku, bahwa aku menyesal, bahwa mungkin suatu saat aku akan dibuang suamiku.
Akan tetapi imanku masih berada dihati. Ku urungkan niatku, karna rasanya tidak pantas aku ceritakan dengan teman lelaki, aku pun hanya membalas chat itu dengan mengabarkan bahwa aku baik2 saja.
Jemariku masih bergeliaran di whatsap, aku ingin meluahkan isi hatiku pada temanku, aku coba cari satu persatu kontak di HPku, namun aku urungkan lagi niat itu disaat aku berfikir, jika aku bercerita toh mereka mungkin hanya akan mentertawakan ceritaku, atau mengasihani aku, atau menceramahi aku krna memilih lelaki yang tidak tepat. Bukankah ini aib bagiku, sangat malu jika ada yang tahu bahwa aku hanya menjadi pelarian suamiku saja.
Aku merenung..fikiranku melayang.. ahirnya aku memutuskan untuk menyimpannya sendiri, biarku pendam laraku ini, aku tetap akan berusaha menjadi istri yang baik untuk suamiku, aku tak ingin memikirkan semua itu, terserah, dicintai atau hanya menjadi pelarian saja aku tak perduli, yang jelas aku hanya ingin menjalankan kewajibanku, apalagi sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu, aku harus kuat gak boleh nangis2 lagi. Lupakan semua ini, anggap saja tidak ada siapapun didalam hati suamiku selain aku. Fikirku menyemangati diri sendiri.
Akupun membisukan pembaruan status mantan istri Ahmad pada whatsapku agar mood ku terhadap suamiku tidak berubah. Karna setiap kali aku melihat sttusnya lewat di whatsap maka aku langsung teringat semua yang ia ceritakan pada ku, itu membuat moodku berubah, perasaanku kepada suamiku memburuk. Jadi Itu adalah caraku Agar aku dan janinku bisa tenang.
…
Hari2 kujalani seperti ini, tersenyum diluar tapi didalam batinku terpukul, setiap hari aku menyandang kecemburuan.
Kadang aku iri melihat status teman2ku yang harmonis dengan keluarga kecilnya, bahagia tanpa ada kebohongan.
***
Selama aku hamil aku tak pernah di antar suamiku kebidan. Saat ke puskes maupun kebidan hanya bersama keluargaku, itupun aku harus bawa motor sendiri dengan perut yang mulai membesar. Setiap kali aku ketempat bidan selalunya barengan dengan ibu hamil yang diantar suaminya, tidak hanya satu, tapi beberapa, jujur saja aku iri melihatnya, kadang sepulangnya dari bidan aku menangis, aku memang sangat mudah menangis apalagi disaat hamil, hal kecil saja bisa membuat aku menangis, tapi aku harus sadar diri bahwa suamiku tidak benar2 mencintaiku jadi aku jangan berharap yang lebih2, dibiayai untuk kebidan saja itu sudah lebih dari cukup. Meski begitu tapi sepulangnya suamiku kerja aku selalu antusias mengabarkan apa saja yang dikatakan bidan. Anjuran atau larangan yang dikasih tau bidan selalu aku bagi tau padanya.
Dan setelah usia kandunganku memasuki 6 atau 7 bulan baru suamiku mengantarkanku kebidan, itupun karna disuruh keluargaku karna beliau sudah takut mlihatku menyetir motor dengan perut besar.
Aku sangat senang ketika suamiku mau mengantarkanku kebidan, rasanya seperti punya semangat baru.
Layaknya wanita hamil pada umumnya akupun merasakan yang namanya ngidam. Saat aku mengidam sesuatu aku tak pernah meminta pada suami, aku lebih sering mencari makanan itu sendiri, sebab setiap aku ingin meminta sesuatu selalunya terngiang2 lagi cerita demi cerita yang disampaikan ka riri, leni, dan mantan istri suamiku hingga aku tak sanggup meminta apapun pada suamiku sendiri. Entahlah, aku merasa segan. Akan tetapi aku sangat menunggu Ahmad bertanya, “kamu mau makan apa?” “Kamu ngidam apa?” “Kamu mau dibawain apa?” Tapi tak pernah kalimat itu keluar dari mulut nya.
Pernah aku memancing agar suamiku menawariku, aku ceritakan padanya bahwa makanan yang disana kata orang2 enak, kamu pernah makan itu gak? Tanyaku, dalam hati aku menunggu dia menawariku makanan yang aku sebut, namun tak juga dia tanyakan apakah aku ingin makanan itu. Itulah pertama dan terakhir aku memancing dia agar membelikan makanan yang sedang ku kidam. Setelahnya aku tak pernah lagi, kalau aku bisa membelinya sendiri maka akan aku beli, namun jika aku tak bisa membelinya maka aku pendam saja. Aku pernah mendengar mitos orang tua dulu, katanya kalo mengidam tak kesampaian nanti anaknya bakalan ileran. Ah! Itu cuma mitos, ya semoga saja hanya mitos. Aku yakin anakku nanti akan baik2 saja.
***
Suamiku prnah berkata, katanya setiap status whatsap seseorang itu biasanya adalah suara hatinya sendiri. Suamiku sering menaroh sttus whatsap kata2 atau sebuah lagu yang menunjukkan perasaannya kepada mantan istrinya.
Pernah dia memasang status whatsap yang isinya ” hujan pergi meninggalkan genangan, kamu pergi meninggalkan kenangan” ketikaku baca status itu hatiku lirih, sangat jelas suamiku tidak bisa melupakan mantan istrinya, banyak kenangan mereka yang tersimpan. Saat itu hatiku bergetar ingin mengomen statusnya, ku ketikka kalimat ” cieee untuk mantan istri” selesai ku ketik, aku merenung agaknya tak perlu aku singgung2 masalah perasaannya terhadap mantan istrinya. Ku urungkan mengirimnya akupun segera menghapus apa yang aku ketik. Setelah aku melihat status itu tak berapa lama status itu dia hapus. Mungkin karna dia tahu bahwa aku melihat statusnya dan tidak enak denganku sehingga dia hapus status perasaannya itu.
Kadang status yang berisi tentang bahwa dia tak bisa melupakan mantan, bahwa mantannyalah yang terbaik tidak ada yang bisa menggantikan.
Aku kembali lirih melihat status whatsap suamiku. Hati istri mana yang tidak terpukul jika suaminya memasang status manis untuk mantan istrinya. Aku renungkan isi status itu, itu berarti benar, dia tidak bahagia denganku, benar apa yang dikatakan mereka kemaren bahwa aku hanya pelarian. fisik suamiku memang denganku tapi hatinya masih pada mantan istrinya, aku mencoba menguatkan hatiku, dan semoga Tuhan memberiku banyak pintu kesabaran. Aku ingatkanlagi pada diriku bahwa ini semua adalah ujian, ingat bahwa melayani suami dengan ikhlas adalah ibadah. Sekarang aku sudah tak mengharapkan cinta suamiku melainkan semoga apa yang aku lakukan untuknya menjadi ibadah untukku.
***
Malam itu suamiku pulang membawa berita, bahwa mantan istrinya baru saja melahirkan anak perempuan.
Kala suamiku bercerita dia sambil rebahan, aku juga rebahan disampingnya, saat suamiku menceritakan itu, sangat jelas bahwa suamiku cemburu, aku memandang suamiku yang sambil bercerita, sangat nampak terpancar kecemburuan dimatanya. Entah kenapa aku cemburu melihat suamiku cemburu, Melihat itu mataku berkaca2 aku ingin menangis tapi ku tahan. Ingin sekali aku berkata padanya “pasti kamu cemburu” tapi tak mampu kalimat itu keluar dari mulutku, entahlah aku menahannya dan seolah2 tidak ada apa2.
***
Ketika usia kehamilanku sudah di puncak, aku dan suami sering berdiskusi masalah nama untuk bayi kami. Hasilnya Ahmad ingin memberi nama Aisyah, dia juga beberapa kali menulis nama2 untuk calon bayi kami kemudian dia hitung, entah darimana dia pelajari cara hitung menghitung nama.
Pagi itu aku rapihkan bekas catatan2 nama yang suami tulis tadi malam, ku lihat, dia menulis namanya sendiri, kemudian namaku, lalu nama calon bayi kami Aisyah, tak ketinggalan juga nama anaknya yang akan menjadi kaka bagi anakku. Aku tersenyum melihatnya, ada2 saja ulah suamiku, fikirku. Namun ketika ku baca semua nama dikertas itu, mataku terhenti pada satu nama, yakni nama mantan istrinya. Dia juga menghitung nama mantan istrinya. Hatiku tersentak melihatnya. Sangat jelas bahwa dia masih perhatian pada mantan istrinya. Fikiranku melayang teringat waktu di awal2 pernikahan. Suamiku berkata bahwa dia sudah tidak membawa apapun dari masalalunya melainkan anaknya. Waktu itu akubpercayai itu.
Aku juga teringat ketika teman nya mau menikah untuk yang kedua kalinya. Dia dengan tegasnya mengatakan pada temannya bahwa masalalu dari mantanmu apapun itu jangan dibawa, sudah lupakan. Fokus pada kehidupan sekarang.
Bisa2nya dia berkata seperti itu padahal dia sendiri tak mampu melupakan masalalunya, hari ini aku membuktikan bahwa suamiku masih membawa mantan istrinya disaat denganku, dia membawa mantan istrinya kesini, kerumahku, bahkan kekamar kami. Kuhela nafas panjang, kutahan air mataku. Aku harus kuat, aku punya banyak sabar, ucapku menguatkan diri sendiri.
Aku kemas kertas2 itu pada tempatnya aku taruh di atas lemariku, bahkan nma mantan istrinya aku taruh di depan agar dia bisa melihat nama itu setiap hari.
Kadang aku berfikir kepana aku menikah dengan orang yang punya masalalu. Ingin sekali aku hilangkan rasa sakithati dan kecemburuanku yang setiap hari menghantui, demi bayi yang ku kandung aku ingin benar2 bahagia. Namun selalunya ada2 saja yang membuatku kembali sakit hati. Walaupun begitu tapi aku juga tidak mau meninggalkan suamiku, atau hanya sekedar bermain api dibelakang suamiku untuk melampiaskan kekesalanku. Tak pernah aku terfikirkan hal itu. Bahkan aku takut jika itu terjadi padaku, aku sangat takut jika aku tergoda dan berbuat seperti itu dibelakang suamiku. Bagiku ini semua ujian buatku aku harus melewatinya dengan sabar dan ikhlas.. bukan dengan membalas kekesalanku. Bahkan Saking takutnya aku dengan hal2 seperti itu, setiap dalam sujudku ketika sholat aku selalu selipkan do’a kecil yang isinya ” Yaa Allah..jagakanlah hatiku hanya untuk suamiku”
Aku berharap, bagaimanapun suamiku, semasih cinta apapun suamiku pada mantan istrinya, semoga Tuhan tetap selalu jagakan rasa cintaku pada suamiku, agar aku selalu bisa ta’at padanya, tanpa tertarik dengan laki2 lain.
Aku juga pernah ceritain ini pada suamiku, aku bilang, aku selalu berdoa seperti itu. Kala itu dia heran denganku. Dia bertanya apa aku suka tergoda dengan laki2 lain? Aku menggelang kepala. Lalu?tanya nya lagi. Gak apa2 aku cuma suka dengan kata2 do’a itu,cawabku. Tapi baguskan kata2nya? Sambungku lagi. Iyasih…tapi aneh aja kamu berdo’a seperti itu. Balas Ahmad. Aku hanya tertawa kecil sambil menyimpan rahasia sedihku.
***
Suatu ketika, ada seorang perempuan muda yang betcengkrama dengan keluargaku, entahlah saat itu aku hamil berapa bulan, yang jelas aku masih hamil. Perempuan itu bercerita kisah pernikahannya yang hancur. Dia menikah dengan duda punya 2 anak, di awal pernikahan memang indah, namun setelah beberapa tahun pernikahan. Suaminya menikah lagi dengan mantan istrinya, “suamiku masih sering bertemu dengan mantan istrinya karna masih ada anak2 mereka, yah mau bagaimana lagi namanya juga masih ada anak. Ahirnya mantan istrinya bercerai dengan suaminya kemudian menikah lagi dengan suamiku, dan aku dibuang suamiku. Gak pernah pulang lagi kerumah, padahal kami ada satu anak”.
Hatiku lirih mendengarnya, akankah aku akan mengalami hal yang sama? Ditinggalkan, dibuang, Batinku berbisik.
Samar2 lagi aku mendengar “begitulah nasib menikah dengan laki2 yang punya anak, karna mau tidak mau dia pasti akan masih berhubungan dengan mantan istri, bukan tidak mungkin CLBK akan tumbuh diantara keduanya” ucap perempuan itu.
Benarkah? Iya, benar juga. Suamiku yang masih berhubungan dengan mantan istrinya juga bukan tidak mungkin akan melakukan hal yang sama.
Aku harus menyiapkan diri dan hati, mentalku harus kuat jika suatu saat suamiku memilih untuk kembali rujuk dengan mantan istrinya.
Merasa tak tahan mendengar cerita perempuan itu, akupun masuk kedalam rumah meninggalkan perempuan itu bercengkrama dengan keluargaku.
Aku tergesa2 kekamar rasanya air mataku sudah membendung. Sampai kamar, kuhempaskan badanki kekasur, sambil memejamkan mata sambil tangisku mengalir, setiap hari aku menahan sakit hatiku lalu pada ahirnya aku akan dibuang.
Bagaimana nanti anakku ini. Aku harus bersiap…. aku harus kuat…. aku tidak boleh jatuh cinta pada suamiku lebih jauh dari ini karna saat aku ditinggalkan nanti akan terasa lebih sakit.
Sekarang aku sudah tidak terlalu meratapi nasibku, karna aku tidak bisa memaksakan hati suamiku untuk berhenti mencintai mantan istrinya.
Semoga Tuhan memberiku banyak pintu sabar.
***
Kandunganku sudah menginjak diahir. Ahirnya kontraksi demi kontraksipun aku rasakan. Beruntung, suamiku berada disampingku saat aku mengalami itu. Dia memang sangat bertanggung jawab.
Ketika bayi perempuan ku lahir kebahagiaan barupun aku rasakan. Lupa sejenak dengan kesedihan demi kesedihan yang aku alami selama setahun ini. Tak terasa sudah hampir setahun aku menyimpan laraku sendiri. Ah sudahlah.. sekarang kebahagiaanku cuma ada pada bayiku, semangat baruku selalu muncul setiap harinya saat ada sikecil. Suamiku pun terlihat sangat bahagia dan begitu perhatian pada bayi kami.
Sekarang usia bayiku sebentarlagi 40 hari.
Meski semua ini kurasa sakit namun aku berharap pernikahnku ini terjalin sampai ke jannah.
***
_Nur
Komentar
Posting Komentar