Ketika cinta harus bersabar part4
Kairo, mesir.
Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun pun telah berlalu. Tak terasa sudah belasan tahun Ilham dan keluarga merantau kenegri sungai Nil.
Sudah seminggu ini kota kairo seakan tengah memuncak pada cuaca khas gurun pasir.
matahari benar-benar berkuasa dgn sengatan hawa panas yang dahsyat.
angin-angin yang berhembus pun tidak mengurangi hawa panas ditubuh para penduduknya, malah hembusan angin sahara itu semakin asik menari-nari menggulung debu menambah udara panas semakin terasa.
walaupun mesir juga merupakan wilayah delta Nil yag subur, tapi dibagian lainnya adalah gurun pasir yg tandus.
menyebabkan suhu udara disana semakin jauh dari kata sejuk.
ketika musim panas seperti ini kadang para penduduknya banyak mengosongkan kegiatan disiang hari, mereka lebih memilih mengurung diri didalam rumah atau apartemen.
Bahkan jika cuaca sudah memuncak pada 45 derajat celcius kebanyakan toko-toko dipinggir jalan pada tutup, mereka hanya membuka toko dimalam hari saja. Yang di buka dari habis isya, dan biasanya akan tutup bila tiba waktu subuh.
Begitulah musim panas dimesir, malam jadi siang dan siang bagai malam.
panas yang membara memang mampu mengalahkan aktifitas keseharian mereka.
Namun itu tidak terjadi dgn Ilham.
Walau saat ini kuliah libur musim panas, pasca musim ujian mahasiswa dan pelajar.
Tapi Ilham yg baru saja menempuh S.2 di Universitas Al-Azhar ini masih saja bolak balik kekampus, Untuk menyelesaikan beberapa hal.
Juga sekalian untuk hadir pada majlis-majlis ilmu yg rutin ia singgahi.
Pagi menjelang siang. Beberapa pemuda tampak terburu-buru menuju pintu Muzayyinin, masjid Al-Azhar.
Dari dalam mikrofon terdengar suara Syaikh Abdullah.
Ratusan penuntut ilmu pun termasuk Ilham antusias mengikuti talaqqi Shohih Bukhori.
Bersama Sasyayikh Al-Azhar mereka tenggelam dalam manisnya lautan ilmu.
Talaqqi itu pun berhenti saat bergema adzan zhuhur dari manara-manara masjid-masjid dikairo.
Ilham pun langsung membasuh lima anggota tubuhnya dgn wudhu, kemudian langsung ia bergegas sholat berjama’ah dimasjid jami’ Al-Azhar.
Masjid yg dibangun oleh panglima Jauhar Assiqilli antara tahun 970-972 masehi, atas perintah khalifah Mu’iz Lidinillah, yang sekarang menjadi masjid kampus terbesar didunia.
Selesai sudah sholat berjama’ah Ilham laksanakan. kemudian ia mengambil tempat duduk paling belakang, disandarkannya bahu pada dinding masjid.
Sekejap ia lepas rasa lelahnya, ia merasa nyaman berada didalam masjid.
mengingat, di tv tadi pagi ramalan cuaca mengumumkan 40 derajat celcius.
Terbayang panasnya seperti apa, membuat ia merasa malas untuk berkeliaran dijalan dgn kondisi cuaca yg tidak nyaman ini.
Tetapi ia langsung menepis rasa malas itu ketika ingat hari ini harus ke majlis Al-Qur’an ba’da zhuhur dikawasan Shubra El-Khaima, untuk kembali talaqqi.
Kali ini dengan Syaikh Utsman, seorang Syaikh Ahli qiro’ah sab’ah.
Ilham bangun dari duduknya dan langsung melangkah keluar masjid.
Ia berusaha meneguhkan kekuatan untuk bertarung dgn panasnya sengatan matahari siang ini.
Jarak yg ia tempuh berpuluh-puluh kilo meter untuk sampai kesana, ia menggunakan metro (kereta listrik).
Didalam metro Ilham mendapatkan tempat duduk di dekat jendela.
Ia sesekali memandang sekelilingnya.
Terlihat banyak penumpang yg membaca Al-Qur’an. Meski dalam suasana penuh sesak itu.
Ada yg sambil memegang mushaf, dan ada juga yg menggunakan hafalan.
Membaca Al-Qur’an dimana saja, itu memang kebiasaan orang mesir.
Bahkan mereka sudah terbiasa menghafal Al-Qur’an sejak kecil.
Ilham kembali teringak perkataan kenalannya bernama M.rosyad yg juga dari asia tenggara, yg kini menetap dikairo dan beristrikan orang kairo yg sudah punya satu anak.
“Stiap kita bertemu dengan enam orang mesir, maka dipastikan salah satunya hafal 30 juz Al-Qur’an”. Begitu kata M.Rasyad.
Ia hanya tersenyum menyaksikan suasana indah itu.
Andai di indonesia juga punya kebiasaan seperti ini , pikirnya.
Ia kembali melihat suasana dibalik kaca metro yg melaju kencang itu.
Disebelah nya duduk seorang gadis bergamis merah marun dgn jilbab warna senada.
Ilham tidak memperhatikan gadis yg duduk bersebelahan dgn nya itu.
Ia hanya mengarahkan pandangannya keluar kaca.
“Maaf”. Ucap gadis itu tiba-tiba kepada Ilham.
Ilham menoleh gadis itu.
“Awak ni abang Ilham anak uncle Khalid ke?”. Tanya gadis berlesung pipit itu dengan menggunakan bahasa malaysia.
“Iya…” Ilham mengangguk.
“Alhamdulillah nasib baik jumpa abang disini, nak minta tolong bulih?”
“Minta tolong apa ya?”
“Tolong hantarkan barang ni kat uncle Khalid”, gadis itu mengeluarkan bungkusan hitam dari dalam tasnya. “Dari abah saya nie, Saya orang tak sempat nak hantar kat beliau. Sebab lepas dari shubra saya mesti lekas balik ke alexandria. tak sempat hantarkan kat toko Abah awak tu. Nah, ambil”. Gadis itu menyerahkan pada ilham.
“Oh iya, insyaAlloh akan saya berikan kepada bapak sana nanti”. Ucap Ilham yg sedikit bingung, dari mana gadis malaysia ini tahu bahwa ia anak pak Khalid, sedangkan ia tidak mengenalnya sama sekali.
Tetapi ia enggan untuk menanyakan nya langsung. Ia lebih memilih diam, dan gadis itu pun diam. Tak ada lagi pembicaraan setelahnya.
Tak terasa metro pun ahirnya sampai ketempat tujuan, Shubra El-Khaima.
Semua penumpang turun.
Gadis itu lebih dulu keluar dari metro.
kemudian Ilham pun keluar.
Tidak ada lagi terlihat gadis itu dipenglihatan Ilham, entah kemanakah tujuannya.
Kemudian dari jarak yg tak begitu jauh, terlihat Ahmad teman talaqqi Ilham sedang berdiri.
Nampaknya ahmad juga baru saja keluar dari metro yg sama.
“Assalamu’alaikum!” Ucap Ilham kepada Ahmad.
“Wa’alaikum salam…”
Mereka pun saling bersalaman.
Selang tangan Ilham dan Ahmad masih berjabat.
Tiba-tiba terdengar suara lembut memberi salam dari belakang Ilham.
“Assalamu’alaikum…”
Sontak Ilham dan Ahmad pun langsung mengarahkan pandangan mereka pada asal muasal suara tersebut.
“Oh gadis malaysia tadi” kata Ilham dalam hati ketika ia membalikkan badannya.
Ilham tidak membalas salam itu, mimik wajahnya penuh tanya.
Dan Ahmad nampak tertegun sejenak ketika kedua matanya mengarah pada gadis manis itu.
“Saya nak ucapkan terimakasih banyak-banyak, sebab dah bersedia hantarkan tu barang. Silap saya tafi.. tak sempat ucap terimakasih”. kata gadis itu sambil menundukkan wajahnya.
“Iya sama sama, gak usah berterimakasih pun sebenarnya gak masalah kok”,sahut Ilham sambil tertawa kecil.
“Macam tu ke? ye laa. saya nak tinggal”
Gadis itu pun lansung berbalik dan menuju arah gerbang keluar.
“Ente ternyata kenal dengan Hannah ya?”. tanya Ahmad sambil munnujuk gadis itu dgn isyarat mata.
“Hannah? Jadi namanya Hannah?”
Ahmad mengangguk. “jadi ente belum tau namanya? ana kira ente berteman dgn nya”
Ilham langsung tertawa kecil. “Ketemu aja baru tdi di dalam metro. itu pun karna dia minta tolong titip sesuatu untuk bapak ana,katanya dari Abah dia.
Aneh nya dia tau ana anak pak khalid. bahkan tau nama ana”.
“Oya?” Ahmad terkejut.
“Hmm munkin Abah dia teman bapak ana, mungkin juga dia pernah ketoko. soalnya ana merasa gak asing dgn wajahnya”.
“Ya jelas gak asing.. mungkin slain di toko.. ente pernah ketemu atau berpapasan dikampus. Dia juga mahasiswi Al-Azhar jurusan tafsir”.
“Oya?.. hmm mungkin juga begitu. udah ah gak usah dibahas lagi”. pinta Ilham.
Dan merka pun menuju tempat majlis Syaikh utsman.
* * *
Di indonesia. Sore itu khalifah masih sibuk didepan laptop nya.
Karna hari jum’at, jadi ia tidak ke TPA untuk mengajar.
Sebab setiap jum’at TPA libur.
Bersambung…
KEPART5
Komentar
Posting Komentar