KETIKA CINTA HARUS BERKORBAN PART7

Kairo, mesir.

Menjelang sore. Pemuda bernama ilham itu tengah berjalan dari kampus menuju maktabah(toko buku) dibelakang masjid Al-Azhar, di bilangan darsah.
Maktabah-maktabah didarsah memang terkenal di kalangan mahasiswa dan mahasiswi sebagai maktabah paling murah sekairo.

Ditengah perjalanan menuju darsah, seketika Ilham teringat dengan pembicaraan kawan-kawan talaqqinya dimetro saat perjalanan pulang dari Shubra El-Khaima semalam,
bahwa ada maktabah orang jawa yang terletak dikawasan Syurthoh Bab Asya’riyah.
Tempat itu agak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Namun rasa penasarannya akan maktabah orang jawa itu memicu nya untuk berbalik arah, meninggalkan niatnya kedarsah
dan beralih untuk menuju Syurthoh.

Dan benar saja, ia membalikkan arah menuju jalan raya untuk menaiki bus jurusan.
Lama ia berdiri di tepi jalan, namun bus yang di tunggu olehnya tak satupun lewat dihadapannya.
lima belas menit berlalu, berkali-kali sudah ia melihat jam tangannya.
hawa panas pun makin terasa dibumbunannya, sebab musim panas belum berakhir membaluti mesir.
tak tahan, ilhampun memasang kaca mata hitam nya untuk mengurangi debu dan hawa panas yg menghantam ke matanya.
Ilham mulai resah.
lima belas menit waktunya terbuang dengan hanya berdiri disana.
lima belas menit baginya berharga, sebab ia lelaki yang sibuk, banyak kegiatan, terlebih ia adalah lelaki yang disiplin dan tepat waktu.
Sedang tugas kuliah yang menumpuk dirumah telah menunggu.
para tugas-tugas itu seolah berteriakan ditelinga Ilham,
memintanya untuk pulang dan meminta untuk segera diselesaikan.
Membuat ilham hampir membatalkan niatnya untuk ke Syurthoh.

Tetapi ia patahkan jua bayang-bayang tumpukan tugas itu
ketika ia melihat sebuah taxi yang mulai mendekat.

Ia pun langsung menghentikan taxi tersebut.
Setelah negosiasi antara Ilham dan sopir taxi itu menemukan harga yang pas untuk keduanya, Ilhampun menaiki taxi tersebut.
taxi pun berjalan laju menuju Syurthoh Bab Assya’riyah.

Setelah sampai di Syurthoh. Ilham langsung menuju tempat yang sudah diberitahukan oleh kawan-kawannya semalam.
Ia memasuki jalan yang agak sempit, lalu kemudian menemukan tempat keramayan seperti pasar,
kemudian ia mencari-cari yang ia tuju.
Tak berapa lama ia pun sampai.
Sesampainya, ia melihat suasana maktabah yang kuno, seperti bangunan tua.
Letaknya juga berada jauh dari pusat maktabah kebanyakan,
malah maktabah itu berjejer dengan toko kelontongan mesir.
Jika saja Ilham tak teliti, ia tidak akan menemukan maktabah nan kuno itu.

Maktabah Al-Husen, begitu tulisan yang tergantung di depan atas maktabah tersebut.
Ilham memperhatikan sekitarnya, terlihat tempatnya sepi pengunjung.
Kemudian Ilham memasukinya dan menghampiri penjaga toko tersebut.

“Assalamu’alaik!” sapa Ilham

Bapak itu hanya melirik sesaat lalu kembali mengarahkan pandangannya pada Alqur’an yang ia pegang.

Ilham menunggu sebentar.

Sesaat kemudian bapak itu menutup Alqur’annya.

“Law samahtum, fi kitab Hasyiyatun Nafahat li Syeikh Khatib Al-Minangkabawi? (permisi apa ada kitab Hasyiyatun Nafahat karya Syeikh Khatib Al-minangkabawi?)” tanya Ilham

Seketika bapak berjenggot tebal itu mengangkat kepala lalu memasang kacamatanya.
Kemudian berucap yang membuat Ilham tersenyum namun heran.

“Oh, kamu dari indonesia?”

“Iya tuan..” Jawab Ilham yang agak kagum ketika bapak itu menggunakan bahasa indonesia.
Padahal sepertinya beliau asli mesir kalau di liat dari paras dan perawakan.

“Mari sini nak, kamu mau buku apa tadi?
Biar saya antarkan, disini banyak buku, kitab, dan risalah melayu karangan para ulama besar melayu zaman dulu”

“Biar saya ambil sendiri saja pak” pinta Ilham

“Oh,Silahkan, pilih sesukamu. Nanti saya kasih diskon”

“Alloh Yarham.. Alhamdulillah, terimakasih tuan” ucap Ilham dgn wajah segar

“Sama-sama nak. Silahkan” Suruh bapak itu sambil mengayunkan tangan kirinya kearah rak-rak kitab yang berjejer didalam.

Ilham mengangguk dan langsung menuju yang dimaksud.
Terlihat rak-rak didalamnya sudah agak lusuh,nampak kitab-kitab kuning terpampang berjejeran,sebagian tidak teratur.

Dengan langkah pelan ia mulai melihat-lihat tumpukan buku-buku dan kitan-kitab itu,
Benar kata bapak tadi bahwa memang banyak karangan-karangan ulama melayu dijual disini.
Setelah dua rak buku ia lalui,
Ia pun berenti, sebab kitab yang ia maksud telah ia dapatkan.
Ia pun mengambil kitab Hasyiyatun nafahat itu.

Ia kembali berjalan menyusuri rak2.
Siapa tau ada kitab lagi yang menarik hatinya, fikirnya.
Kemudian, tak disangka nampak dari balik rak buku yg sebagiannya kosong itu, berdiri sosok gadis yang pernah bertemu dengan nya didalam metro tempo hari.
Ilham memperhatikan sebentar. Ya, itu memang Hannah, ucap batinnya.
Namun ia tak menghiraukan keberadaan Hannah dan memilih kembali melihat-lihat kitab.

Tak berapa lama, Hannah yang juga sedang asik melihat2 kitab itu pun ahirnya sampai pada rak buku dimana Ilham juga berdiri disana.
Hannah nampak sangat kaget ketika melihat Ilham didepannya.
Ilhampun langsung melemparkan senyuman singkat sembari menganggukkan kepalanya,
Setelah kemudian kembali vokus pada susunan buku2 dihadapannya.

Hannah langsung mendekati Ilham. Walau dengan sedikit ragu namun ia keluarkan juga suaranya
untuk menyapa Ilham duluan.

“Tak sangka kita jumpa kat sini ye”, ucap Hannah

“Eh,Iya…”,sahut Ilham

“Abang nak cari buku apa?”

“ini, Hasyiyatun nafahat” tunjuk Ilham memperlihatkan, “Sekalian juga mau liat-liat yang lain” sambungnya.

“Oh, macam tu..” Hannah mengangguk

“Kalo kamu cari buku apa?”

“Sebenarnya tak de, nak tengok je.. Bila dia ada mengikat hati, mesti la saya beli”

Ilham hanya tertawa mendengarnya.

“Suka mampir kesini ya?” tanya Ilham

“ye?”

“kamu suka beli buku ditoko ini ya?” jelas Ilham

“Betul, suka sangat. Banyak buku-buku lampau kat sini tau, buku moderen pun ade. Sebab tu saya suka. Abang macam mana?”

“Kalo saya sih, ini malah yang pertama kalinya saya kesini”

“Oh..” Hannah kembali mengangguk sambil tersenyum.
Nampak lesung pipitnya terlihat jelas pada kedua pipinya.
Sengguh manis sosok Hannah ini.

“Eh,duluan ya. Kayaknya cukup satu kitab ini aja. Permisi”

Ilham berbalik menuju kasir.

“Tunggu!!” Tahan Hannah

Sontak Ilham langsung menoleh kebelakang,

“Ya?”

“Emmm Abang tak nak tahu nama saya ke?”, Tanya Hannah pelan, sambil menundukkan wajahnya menahan rasa malu

“Saya sudah tau kok nama kamu, nama kamu Hannah kan?”

“Alamak!!” kejut Hannah, “Abang tau…”

“Iya, teman saya Ahmad yang ngasih tau.. Ya udah, saya permisi dulu ya”

“Sila la (silahkan)”

Ilhampun segra menghampiri bapak berjenggot tebal tadi di kasir.
Sedang Hannah masih saja berdiri disana, ia terpaku.
Ada rasa berbunga2 dihatinya ketika mengetahui bahwa Ilham tahu namanya sebelum ia meperkenalkan diri.
Apakah Ilham sengaja mencari tahu namanya?
mencari tahu siapa dia?
Begitu fikir Hannah.

* * *
Di Indonesia.

Hari minggu. Gak ada kuliah, gak ada yang dikerjakan oleh Khalifah hari in
selain membantu mengajar di TPA nanti sore.
Salah satu kegiatan paling Khalifah sukai, sebab bertemu dengan anak-anak yang masih bersih jiwanya belum tercemar.
Ia rasa, ada semangat polos namun begitu murni disetiap usaha mereka menangkap pemahaman
dalam belajar Al-qur’an yang mulia.
Kitab yang suci di pelajari oleh makhluk yang masih suci pulak, tentu saja akan menghasilkan berkah yg istimewa. Begitulah fikir Khalifah.

Ia masih ingat hari ini ada janji dengan Azkia
Untuk nemenin Azkia ke walimatul’ursy nya Raudhah.
Teman Azkia waktu sekolah dulu.

Ia berdandan seadanya dengan dress sederehana.
Kemudian duduk didepan meja rias,
Ia membuka sorokan dan mengambil kotak kecil berisi tasbih indah berwarna perak di dalamnya.
Dengan segra ia kalungkan tasbih pemberian Ilham itu dilehernya.
Kemudian entah apa gerangan, sesaat ia memandang wajahnya sendiri yang sedang berkalungkan tasbih didepan cermin, tangan nya yang selalu menggenggam ujung tasbih yg terjuntai didadanya,
sekarang ia genggam lagi.
Senyum pun terhias diwajahnya seketika ia berucap..
“Andai Kak Ilham lihat aku hari ini, hari-hari sebelumnya, dan hari akan datang..”

Tiba-tiba terdengar suara membangunkan lamunannya.

“Kamu udah siap Fah?”, tanya Azkia dari balik pintu kamar dengan pakayan yang sudah rapih

“Eh! Iya, bentar lagi kak” sahut Khalifah, tangannya sibuk memasang jilbab nya.

“Kakak tunggu diluar ya, jangan lama-lama”

“Siap bos!”

Bersambung..
KePART8

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Maaf cerita di part7 nya kurang bagus N kurang asik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rebah Di Tirai Cinta ( Bab 22 )

Rebah Di Tirai Cinta ( Bab 24 )

NOVEL CINTA TERLENGKAP: Makluman