KETIKA CINTA HARUS BERKORBAN PART6
Pukul 13:45. Semua kegiatan Khalifah dikampus sudah selesai. Setelah ia rasa tidak ada keperluan apa-apa lagi dikampus.
Ia pun berniat memenuhi janjinya pada sahabatnya Rina untuk kekost Rina seusai kuliah.
Kebetulan kost an Rina tidak jauh dari kampus, jadi jalan kaki pun tak masalah baginya.
Ia berjalan turun menapaki anak tangga yang tersusun rapi dibawah kakinya.
Kemudian ia berhenti sebentar, dibukanya tas yang tergantung dibahu kanannya untuk mengambil ponsel.
Ia pun mengirim SMS pada Rina:
Rin, aku udah selesai. Nih aku mau jalan kekost mu.
SMS sukses.
Ia pun melanjutkan jalannya menuruni para anak tangga itu.
Tak berapa lama suara SMS masuk bergema dari ponsel yang dalam genggamannya.
Dilihatnya.
Satu SMS masuk dari Rina:
Aku lagi ditaman kucing, kamu temui aku disini aja yah!
Khalifah pun membalas: Okay!
Setelah keluar dari gedung kampus, Khalifah langsung berjalan kearah kiri.
Ia melewati butik-butik yang berjajar dipinggir jalan raya seratus meter dari kampusnya.
Dilihatnya banyak dress indah terpampang dibalik kaca butik, ia baru sadar dress-dress yang dijual didekat kampusnya itu ternyata banyak yang bagus.
Karna semenjak toko-toko butik itu dibuka, ia tidak pernah tertarik untuk singgah atau sekedar melihat-lihat.
Ia terus saja berjalan menyusuri tepi jalan dengan mata yang tak lepas dari butik-butik itu.
Kemudian, tiba-tiba ia memelankan langkahnya, pandanganya tertuju pada gaun pengantin berwarna putih yang terpasang pada boneka manekin,
Gaun yang sangat cantik dengan hiasan bunga berwarna pink dipinggang kiri dan sentuhan payet-payet detil menambah kecantikan gaun itu semakin sempurna dimatanya.
Entah kenapa tiba-tiba saja ia berharap
Suatu saat nanti ia ingin memakai gaun yang sama indahnya dengan gaun itu dihari yang sakral,
hari yang akan mempertemukan dua insan dan menyatukan dua hati
Dibawah naungan ridha dari sang Ilahi.
Tangannya langsung menggenggam erat ujung tasbih yang terkalung dibalik jilbabnya. “Kak Ilham..”, ucapnya dalam hati, ada senyum tipis menghiasi wajahnya ketika menyebut nama itu didalam hatinya.
Jantungnya berdegup tatkala ia membayangkan Ilham lah mempelai perianya.
Tapi seketika itu juga ia langsung melepas genggamannya pada tasbih.
“Astagfirullah!!”, ucapnya tiba-tiba, ia langsung melepaskan pandangannya dari gaun itu dan kembali melajukan langkahnya.
Ia sadar, ia tidak boleh memikirkan hal-hal yang seperti itu.
Jika nama Ilham lah yang tertulis dilauhul mahfuz untuknya
Maka akan Allah satukan kelak dengan cara Allah yang indah, ia yakin itu.
Ilham akan datang.. Akan datang..
Ia kembali tersenyum sembari berlalu dari butik-butik yang sempat mengalihkan pikirannya itu.
Ia pun melewati toko buku Pelangi, kemudian melewati tempat pemakaman kristin, didepan pagar pemakaman itu terlihat ada ibu-ibu berjilbab sedang melayani pembeli, ibu itu menjual bunga mawar untuk penziarah yang ingin menaruh bunga pada makam sanak saudara mereka.
Khalifah menghela nafas melihatnya,sambil terus berjalan ia berfikir, Allah memang senantiasa memberi rizki kepada setiap hambanya yang bernyawa meskipun rizki tersebut Allah alirkan lewat makam-makam hambanya yg berpaling,fikirnya dgn penuh rasa syukur.
Ibu itu melemparkan senyuman pada Khalifah, khalifahpun membalas senyum itu diiringi anggukan kepala.
Ia pun ahirnya sampai di taman kucing.
Ia memasuki area taman itu sambil menoleh kekiri dan kekanan.
Kedua matanya langsung menangkap gadis berjilbab hitam yang sedang duduk di kursi taman sambil asik dengan ponselnya. Benar saja itu adalah Rina.
Khalifah pun langsung menghampirinya.
“Assalamu’alaikum”,Khalifah memberi salam.
Rina langsung menoleh, “Wa’alaikum salam”,sahutnya. “kok lama sih Fah?”.
“Maaf, aku jalan kaki soalnya”
“Loh, motormu mana? Mogok lagi?”
Khalifah menganggukkan kepalanya sembari duduk disebelah Rina. “Ada apa sih Rin? Kok tiba-tiba ngajak ketemu?”
“Emm ada yag ingin aku sampaikan, boleh gak?”
“Tentu saja boleh”
“sebenarnya tadi malam aku ingin menyampaikannya lewat telepon, tapi aku rasa.. Kurang tepat kalo gak ketemu langsung”
“Apa itu Rin? Kayaknya penting ya?”
“Banget Fah, penting banget.. Ini masalah hati and masa depan”
“Hmm?”
“Kamu ingat sama orang yang ngebantu kamu pas motormu mogok kemaren?”
“ingat, itu pak Budiman, satpam pesantren. Dia memang baik”
“Bukan.. Bukan yang memperbaiki motormu. Tapi yang mendorong motor itu dari kampus sampai ke kost an ku”
“Oh, cowok yang katamu kakak kelasmu waktu d SLTP itu?”
“Tepat sekali. Kami masih ingat gak bagaimana orangnya?”
“Emm aku gak terlalu memperhatikan Rin, Emang kenapa?”
“Sebelumnya aku mau cerita dulu tentang cowok itu. Namnya Fatih, dia sebenarnya asli orang sini, keluarga besarnyapun tinggal disini.
Tapi oleh karna pekerjaan bapaknya itu mengharuskannya tinggal dijakarta dari SD”.
khalifah mengangguk saja mendengarnya.
Rina pun kembali meneruskan ceritanya, “Kemaren tuh dia disini mau ketemu Om nya, kebetulan Om nya dosen di kampus kita.
Dia itu lelaki yang cerdas lo Fah, baik lagi. Kebetulan rumahku dijakarta itu deket sama rumahnya, aku cuga sangat mengenal baik keluarganya.
Dia dalam lingkungan keluarga yang agamis. Ibunya berjilbab, kedua adiknya juga berjilbab. Keluarganya pun sangat ramah dan terbuka, padahal dia anak pengusaha kaya”.
“Lah terus, kenapa aku harus mendengarkan semua tentang Fatih?”,sela Khalifah.
“Makanya denger dulu, aku belum selesai ngomong.
Begini, aku tau beberapa bulan ini ibunya menyuruhnya untuk menikah.
Sudah beberapa orang gadis ibunya tawarkan kepadanya, tetapi gak ada satupun yang ia pilih. Katanya sih belum seperti yang ia inginkan.
Ibunya tuh sempat prustasi lo mikirin Fatih ini.
Aku pernah nanya kedia. Pengen nyari istri yang kayak gimana? Dia bilang, minimal yang berjilbab rapat dan kalo bisa yg pernah mengecap pendidikan pesantren.
Di jakarta mah susah cari cewek yg pernah mengecap kehidupan pesantren.
Kemaren itu dia sempat bilang gak pengen mikirin soal jodoh dulu”, jelas Rina.
Khalifah hanya bengong saja mendengarnya, kadang-kadang matanya melirik dua anak kecil yang berlari-larian dihadapannya.
“Tapi yang mengejutkan, semalam dia menghubungi aku, katanya dia suka sama kamu Fah”
Khalifah yang tadinya memperhatikan keceriaan dua anak kecil dihadapannya itu pun langsung mengalihkan pandangan pada Rina.
“Dia ingin berta’aruf kerumahmu.. Kalau sama-sama merasa cocok, dia akan segera menghithbahmu. Bagaimana Fah?”
“Ha?”
“kok cuman Ha “
Khalifah diam, tidak ada jawabannya.
“Kamu ingat-ingat lagi deh si Fatih itu gimana menurutmu, ganteng gak?”
“Emang kenapa Rin?”
“Ya kalo menurutmu gantengkan kamu bisa fikirkan untuk menerima”,kata Rina sambil tertawa.
Khalifah pun tersenyum, “Emang kalo ganteng bakalan aku terima?”
Rina mengangkat kedua bahunya. “Yakali aja…” sahut Rina.
“Fisik itu gak jadi patokan dalam aku memilih pasangan hidup Rin. Keinginanku simple kok, aku hanya menunggu seseorang yang sholih dan pas dihati aku. Itu aza”
“Fatih itu sholih lo.. Trus?”
“Gak harus jawab sekarangkan Rin?”
“Oh tentu.. Istikhorohlah dulu, dan bicarakan sama orang tuamu”
Khalifah diam saja, ia menunduk memeriksa jam tangannya.
“Wah udah jam setengah tiga nih Rin, aku harus segera ngantar novel ku ke PT.Bulan bintang nih, gak sempet kalo harus balik dulu kerumah.
Numpang sholat zhohor di kostmu aja yah Rin”
“Oh,ya udah. Yuk kekost”, ajak Rina.
Mereka berduapun bangkit dari duduk dan menuju kost an Rina.
* * *
Sore tengah menjelma pada langitnya. Agak sedik panas namun tetap sejuk dengan tiupan angin khas suasana tropis.
Terdengar burung-burung Bercuit riang menapaki ranting pepohonan yang rindang.
Dibawahnya nampak seorang pemuda duduk d samping jendela, tangannya memegang satu kitab.
Kadang ia tutup kitab itu, kadang ia buka lagi.
Ialah pemuda bernama Ali,
Yang beberapa hari ini jiwanya tengah terpaut oleh sosok seorang bidadari menurut hatinya,
Pesona gadis itu seperti musim semi sesudah musim dingin yang beku,
Seperti tetesan hujan di tengah gersangnya gurun sahara yang panas.
Gadis itu ibarat pengharapan baru disalam semangatnya.
Pikirannya masih saja terngiang2 pada pertemuan tak sengaja di gerbang pesantren Al-firdaus semalam.
Ia mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda, rasa yang mungkin juga pernah hadir dalam hatinya.
Ia larut dalam munajat kepada sang khalik dalam sholat asarnya.
Ia memohon kepada Allah agar hatinya terjaga dari perasaan yang fitnah, ia tak ingin tarjebak pada rasa yang semu.
Sholat Asar sudah selesai ia laksanakan.
Ia berbangun dari sajadah dan merapikan tempat sholatnya.
Kemudian ia duduk santai dikursi tamu rumah ustadz Sholhan, yg tidak lain adalah suami dari adik bapaknya sendiri.
Itu lah sebab knp ia tidak menolak saat ustadz Sholhan memintanya agar tinggal dirumah beliau selama iya mengajar di pesantren Al-Firdaus.
Karna jarak rumah beliau dgn pesantren sangat dekat, selain itu juga agar beliau dan istri tidak kesepian dirumah, berhubung mereka tidak punya anak.
Ya, Ali memang dipinta oleh Ustdz Annur untuk membantu mengajar dipesantren Al-firdaus. Itulah sebab Ali dan Ustadz Sholhan kemaren bertandang kepesantren untuk menerima tawaran ustadz Annur, yang secara tidak sengaja bertemu dengan Khalifah digerbang itu.
Ali yang berasal dari kalimantan ini tengah duduk santai sambil melihat suasana sore dibalik kaca rumah.
Diluar banyak anak kecil berlalu lalang, ada yang membawa layang-layang, ada yang berlari-larian, dan bnyak juga beberapa orang tua yang berlaluan dgn keperluannya masing-masing, daerah ini memang ramai kalau sore.
Ditambah banyak anak-anak kecil berlaluan dgn seragam kuning menuju ke TPA untuk belajar Al-quran disana.
Diantara anak anak yang berlaluan Ali melihat gadis itu kembali.
Gadis yang baru saja hadir dalam munajatnya pada sang khalik untuk minta perlindungan hati agar tidak jatuh pada perasaan yang salah.
Kini gadis itu lewat didepan rumah ustadz Sholhan.
Kalau kemaren gadis itu memakai gamis biru muda, hari ini dia tampak anggun dengan gamis merah jambunya.
Mata Ali tak berhenti mengikutinya dari balik kaca hingga tak terlihat lagi.
Tiba-tiba ada suara hadir mengagetkannya.
“Liat apa toh Li…?”, Bibik siti istri ustadz Sholhan menghampiri, tangannya membawa piring berisi pisang goreng, dan ditangan yang satunya lagi membawa dua gelas teh hangat.
“Oh, tidak liat apa apa bik, cuma liat keramayan sore disini”, ucapnya salah tingkah.
“Diminum Li”
“Iya,makasih bik. Loh,kapan bibik bikin pisang goreng? Kok Ali gak tau, kalo Ali taukan Ali bisa bantuin menggoreng..”
“Emang bisa?” tanya bibik Siti dgn tatapan meledek.
“Ya jelas bisa donk bik.. Ali ini kan anak perantau, dari anak pesantren.. Kalo cuma goreng menggoreng sih kecil bik”
“Ha..haa..”,bibik Siti tertawa. “Tuh kan jadi rame rumah bibik kalo nambah penghuninya. Gak sepi lagi..
Juga jadi ada temen minum teh deh. Biasanya kalo sore begini bibik cuma sendirian minum teh”
“Makanya… Disayang dong keponakan bibik ini, biar makin betah disini Hi..hiii..”,Ucap Ali sambil tertawa kecil.
Bibik Siti pun ikut tertawa.
Bersambung…
KEPART7
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Maaf ceritanya masih bersambung
Semoga gak ngebosenin yah!
Komentar
Posting Komentar