KETIKA CINTA HARUS BERKORBAN PART5
Di indonesia. Sore itu Khalifah masih sibuk didepan laptop.
Karna hari jum’at, jadi ia tidak ke TPA. Karna setiap jum’at TPA libur.
Ia memang membantu mengajar di TPA yg berada di dekat rumahnya.
Ia nampak begitu serius dgn laptop nya, editan tulisannya masih belum selesai dirapikan.
Sedangkan besok sudah harus diserahkan kepihak penerbit untuk diteliti dan selanjutkan akan diterbitka menjadi sebuah novel yg siap dipasarkan.
Selain seorang mahasiswi dan ustadzah di TPA, Khalifah juga seorang penulis novel dan bekerja di salah satu tabloit islam yg terbit setiap minggu, ia sebagai penulis artikel sejarah islam disana.
Satu novel nya juga sudah tersebar di pasaran, dan sekarang ia tengah menggarap novelnya yg kedua.
Beberapa minggu ini Khalifah memang sangat sibuk, skripsi lah, novel lah, dan artikel yg harus ia buat ditiap minggunya semua datang tak terbendung secara bersamaan.
Tapi ia sangat menyukai semua kegiatannya, semua ia jalankan dgn ikhlas.
Apa lagi ketika ia menghadapi anak anak kecil yg dengan semangatnya belajar membaca Al-Qur’an di TPA.
Mereka membuat lelah Khalifah hilang sesaat.
Masih sibuk mengedit tulisannya, Khalifah mencoba meringankan rasa lelahnya lewat nasyid nasyid lantunan
suara merdu Habib Syech Asseggaf yang ia putar lewat media player dilayar monitor.
Tiba tiba terdengar suara dari luar kamar.
“Fah..”
“Yaa..?”, sahut Khalifah.
“Keluarlah sebentar.. Cobain brownies yg kakak buat ini”, suruh Azkia.
“Nanti saja kak.. Ifah lagi sibuk”, sahutnya lagi setengah teriak.
Tidak ada suara menyahut lagi dari luar, mungkin Azkia faham dgn kondisi Khalifah yg sibuk, fikir Khalifah.
Sesaat kemudian, terdengar pintu kamar dibuka. “Sekarang cantik… Ntar keburu dingin loh. Udah, mati’in dulu laptopnya!”, Azkia memaksa.
“Huufhh….”, Khalifah menghela nafas. “Baiklah…”, Khalifah langsung mensave editannya dan menutup laptop itu.
Ia langsung berbangun dari duduknya dan menggiring Azkia kedapur.
“Sibuk banget ya Fah?”, tanya bunda ketika Khalifah sudah didapur.
“Iya nih Bun, besok novel Ifah harus di anter ke PT Bulan Bintang, dan yg lain lain nya blum pada kelar Ifah kerjakan”, Khalifah lirih, sembari duduk di samping Bunda.
Bunda mengangguk saja.
“Kalo minggu depan sibuk gak?”, tanya Azkia sambil mengangkat brownies baru dari panggangan.
khalifah melirikkan bola matanya kekiri atas, kening nya sedikit mengerut.
Ia berusaha mengingat agendanya.
Jadwal kuliah, jadwal ke TPA, jadwal menulis,
belum lagi jadwal kepengajian dan tadarus Qur’an di mushola sebrang bersama ibu ibu dan pemudi.
Di ingat ingat nya, minggu depan hanya ada jadwal keTPA, itu pun sore.
Pagi dan siang sepertinya tidak ada kesibukan.
“Sepertinya gak sibuk kak”,jawabnya.
“Kalo gitu, temenin kakak ke walimatul’ursy nya Raudhah yah”
“Emang Ifah di undang?”
“Di undang kok, ituh undangannya masih didalam tas.. Belum sempat dikeluarin”
“Oh.. Ya udah, insyaAlloh Ifah bisa temenin”.
* * *
Pagi ini dimeja makan terhidang nasi goreng, telur mata sapi, dan beberapa gelas susu.
Hidangan yg sedap untuk disantap diwaktu pagi.
“Ayah mana? Kok gak ikut sarapan?”, tanya Azkia yg sudah berdandan rapi ala ibu guru,tangannya menggeser kursi untuk diduduki.
“Ayah ta’ziah”, sahut bunda.
“Sepagi ini Bun?”
“Iya,tadi ada yg jemput”
“Ohh..”Azkia mengangguk sembari menyantap nasi goreng buatan Khalifah itu.
“Yang itu bagaimana kak?” tanya Khalifah pada Azkia.
Azkia mengangkat wajahnya. “Enak Fah! Sedikit pedas sih.. Heee”
“Bukan nasi gorengnya kak.. Tapi tawaran ngajar di madrasah negri yg baru jadi itu bagai mana? Jadi kakak ambil?”
“Oh,jadi dong Fah. Nih, hari ini kakak siap mau kesana. Yahh walau pun jauh, tapi disana sangat memerlukan pengajar Fah. Banyak yg nolak ngajar disana, tau sendirikan..tempatnya rada rada di pelosok gitu. Yah itung itung pengalaman”, jelas Azkia.
“Benar itu kak.. Dua jempol nih buat kakak,heee”.
Azkia hanya tersenyum,”Eh Fah, kamu kekampus mau bareng kakak gak? Sekalian, kan satu jalur”.
“Gak usah kak, Ifah masuk jam 10 hari ini. Kalo bareng kakak mah kepagian”
“Emang motormu udah bisa jalan?”, tanya azkia. Mengingat motor khalifah kemaren mogok pas pulang dari kampus, jadilah ia pulang kerumah naik angkot.
Dan motornya ia tinggal di tempat kost temennya,
setelah kemudian motor itu dibawa pak Budiman salah satu satpam pesantren Al-Firdaus kerumah.
Khalifah menghentikan makannya, ia meneguk air putih sebelum bicara. “InsyaAlloh udah bisa, kemaren pak Budiman bantu benerin motornya”
“Jadi gak mau ngebeng nih?”
Khalifah mengangguk.
“Kakak gak tanggung jawab yah klo mogok lagi”,Azkia mengejek.
“Iya….kakak ku… Gak usah khawatir lah”
“Oke..oke… Kakak udah selesai nih,berangkat dulu. Bunda..Azkia berangkat yah”,Azkia meraih tangan bunda kemudian mencium tangan itu.
Azkia pun berangkat.
Selesai Khalifah sarapan beserta bunda.
Dan selesai pulak ia mencuci piring piring kotor bekas sarapan, diliriknya jam dinding dipojok kiri, pukul 08:15.
Masih ada waktu sebelum berangkat kekampus,
ia masih ingat jelas bahwa ia masih dalam keadaan berwudhu.
Ia pun mengambil Al-qur’an. Dibawanya Al-quran itu ketempat yg paling nyaman untuk membacanya.
Ia membuka lembaran kitab suci itu dan berhenti pada awal surah Al-Furqon,
untuk melanjut bacaannya tadi malam yg berakhir di akhir ayat surah Nuur.
Ia pun mengawalinya dgn membaca ta’audz kemudian bismillah, dan mulailah ia melantunkan ayat ayat suci tersebut.
Bacaannya tartil dan fashih, suaranya terdengar indah.
Ia pun larut dalam penghayatan kalam Ilahi.
Dalam masih melantunkan ayat ayat suci, Sesekali ia melirik jam dinding, pukul 08:45.
Ia pun menyudahi dan bersiap untuk kekampus.
Hari ini ia pakai gamis biru muda, jilbab krim.
Ia memang lebih sering memakai gamis untuk kemana saja, karna menurutnya itulah pakayan tercocok dan ternyaman ditubuhnya.
Selesai sudah ia berdandan.
Ia memeriksa kembali isi tas yang akan ia bawa, kalau saja ada yg ketinggalan.
Setelah dirasa cukup, ia pun kembali menutup tas itu lalu mengaitkan pada bahunya.
Ia menoleh pada cermin sesaat, dirapikannya kembali jilbab krimnya itu.
Kemudian ia langsung beranjak keluarkamar.
Tiba tiba saja langkahnya berhenti didepan pintu kamar, ia merasa ada sesuatu yg ketinggalan. Ia berusaha mengingat.
“Astagfirulloh!”,ucapnya ketika meraba bagian lehernya,tak ada tasbih bergantung disana.
Tasbih yg ia jaga dengan sepenuh hati dari awal mendapatkannya hingga sekarang, ia selalu menggantungkan tasbih itu di lehernya yg tertutup jilbab, sehingga tak ada satupun yg mengetahuinya.
Ya, itulah tasbih pemberian dari Ilham.
Tasbih yg dahulu diberikan dari hati sang pemiliknya dan nampaknya diterima oleh hati pulak oleh orang yg menjaganya sekarang.
Ia pun mengambil tasbih itu dan mengalungkannya pada leher.
Kemudian ia sibak sedikit jilbabnya, terlihat ujung tasbih itu berjuntai didadanya.
Ada ukiran bertulis hamjah nun disitu.
Ia tertegun memandangnya, fikirannya tertuju pada sosok seseorang yg telah jauh, yg telah memberikannya tasbih itu. Seseorang yg terlihat begitu sempurna difikirannya.
Meski tak pernah sekalipun ia melihat sosok itu dalam dunia nyata sekarang ini,
Hanya sosok lelaki kecil yg dengan polosnya menyerahka tasbih itu kepadanya sebagai kenangan.
Entah bagaimanakah sosok lelaki kecil itu sekarang.
Ia tersenyum ketika mengingat itu semua.
Kemudian lamunannya sontak terbangun ketika ponselnya berbunyi tanda sms masuk.
Ia langsung membuka tas coklatnya itu untuk mengambil poselnya sambil berjalan keluar kamar.
Satu pesan dari Rina. Isinya:
Fah, pulang kuliah nanti mampir bentar kekost an ku ya! Ada hal penting yg ingin aku sampaikan. Hari ini aku gak ada kuliah. Makanya gak bisa ketemu dikmpus.
Khalifah pun membalas dgn singkat: InsyaAlloh
Dan langsung berangkat.
Di teras rumah Khalifah mencoba menyalakan motornya,
tapi motor itu tidak mau menyala.
Sudah beberapa kali ia mencoba menyalakan namun tetap tidak bisa nyala.
Satpam pesantren Al-firdaus yg biasa di panggil Mamang itu pun menghampiri,
“kenapa motornya neng Ifah?”
“Gak tau nih, mogok lagi”, Sahut Khalifah dengan cemberut.
Mamang pun memeriksa motor itu.”Wah sepertinya aki nya kali neng. Lebih baik naik taksi aja”
“Mamang gak bisa benerin?”
“Aduh, Mamang teh bener bener tidak bisa benerin motor atuh neng”
“Pak Budiman mana Mang?”
“Kang Budiman teh lagi sakit”
“Yaah…” Khalifah mengeluh sambil melihat jam tangannya .
“Naik taksi aja neng. Biar mamang telponkan taksinnya “
“Ah, gak usah mang.makasih. Ifah cari taksi keluar aza biar cepat”
“Oh, ya sudah. Hati hati dijalan ya neng ifah”
“Ia mang.. makasih”. Khalifah tersenyum sambil berlalu menuju gerbang pesantren.
Disaat bersamaan nampak dua orang laki laki sedang menuju masuk gerbang pesantren.
Yang satu lelaki paruh baya yg sudah sangat ifah kenal, ustadz Sholhan nama beliau. Beliau adalah kepala TPA tempat dimana khalifah membantu sebagai pengajar disana.
Dan yg satu lagi pemuda berkulit sawo matang khas orang indonesia dgn baju koko berwarna putih dan sarung hitam motif kotak kotak. Dan khalifah tidak mengenalnya.
Dari jarak yg tidak begitu jauh, pandangan pemuda itu tak sengaja tertuju pada gadis bergamis biru muda, Khalifah.
“MasyaAlloh!!”,ucap lelaki itu pelan tatkala kedua matanya menatap tak sengaja wajah bersih nan cantik itu, hatinya pun langsung berdetak kencang.
“Yaa Alloh siapa yg aku lihat ini? Bidadarikah? Atau hanya seorang muslimah yg sholihah?”,benak pemuda itu.
Khalifah pun semakin dekat beralan kearah mereka yg sedang berjalan menuju masuk.
“Assalamu’alaikum ustadz Sholhan”,ucap Khalifah memberi salam dgn seulas senyum tersungging dibibirnya,matanya hanya mengarah pada ustadz Sholhan.
“Astagfirulloh”,Ucap pemuda itu seraya menundukkan pandangannya ketika melihat senyum Khalifah,”gadis ini benar benar cantik”,benaknya.
“Wa’alaikum salam. Mau kemana Fah?” tanya ustadz Sholhan sembari menghentikan langkahnya.
Pemuda itu pun ikut berhenti tanpa mengangkat wajahnya.
“Kekampus ustadz”
“Oh, ustadz Annurnya ada?”
“Ayah belum balik dari ta’ziah tuh. Tapi ustadz masuk aja dulu, mungkin sebentar lagi pulang”,Suruh Khalifah.
“Oh iya”
“Yaudah,Ifah tinggal dulu Ustadz. Permisi, Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam..” Sahut ustadz sholhan.
Bersambung..
Komentar
Posting Komentar