Ketika Cinta Harus Berkorban Part3
* * *
Empat bulan sudah berlalu. Besok habis subuh, pak Khalid sekeluarga akan berangkat menyebrangkan kaki kenegri gurun pasir.
Malam ini mereka mengadakan acara selamatan yg dihadiri oleh keluarga besar
dan tetanga-tetangga di sekitar rumah.
Tak terkecuali keluarga Ustadz Annur, mereka juga turut hadir dan mendo’akan keselamatan dalam keberangkatan keluarga yg akan merantau kenegri jauh itu.
Sehabis isya acara itu pun dimulai. Beberapa rangkayan acara pun telah dilaksanakan, terakhir Ustdz Annur memimpin do’a.
Acara itu selesai. Makanan dan kue-kue kecil dihidangkan kepada para tetamu yg hadir, semua terlihat begitu menikmati santapan yg disugu kan oleh keluarga pak Khalid.
Ahirnya satu persatu orang-orang yg hadir pada beranjak pulang, hanya sedikit orang yg tersisa disana.
Azkia membantu bundanya mencuci piring-piring kotor didapur bersama ibu-ibu yang lain dan beberapa anak yg juga ikut membantu didapur.
sedang Khalifah bersam beberapa anak yg lain sibuk memunguti sampah tisyu yg berserakan dimana-mana.
Tiba-tiba Khalifah merasa ada seseorang yg menarik tangannya dari belakang. Ia pun menoleh.
“Kak Ilham! Ada apa kak?”
Ilham tidak menjawab. Tangannya terus menarik tangan Khalifah menuju teras rumah.
Disana masih ada beberapa orang tua yg sedang asik mengobrol.
Khalifah memperhatikan sekelilingnya. “kenapa kakak membawa Ifah kesini?”.
Khalifah sungguh heran dgn sikap Ilham.
“Ada yang ingin akun berikan”
“Apa kak?”
Ilham pun mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Setelah ia membuka genggaman tangannya, terlihat tasbih cantik berwarna perak memenuhi tangannya.
“ini untukmu”,kata ilham.
Khalifah pun mengambilnya. “Tasbih? Untuk Ifah?”
“E’eh”. Ilham mengangguk.
“kenapa kakak memberikan ini pada Ifah?”
“kenapa emangnya? Gak boleh ya? Ini kan kenang-kenangan. Besok aq udah gak disini lagi”
“Tapi kak, Ifah gak punya apa-apa untuk dijadikan kenangan buat kakak..”
“Oh,gak usah difikirkan. Aq gak minta balas kok”
Khalifah pun tersenyum,ia senang mendapatkan tasbih cantik itu.
“Emm coba deh kamu perhatikan ujung tasbih itu, ada apa disana”. Suruh Ilham.
Khalifah pun memperhatikan ujungnya. Dilihatnya ada ukiran bertuliskan hurup arab ‘Hamjah.Nun’ disana.
“Hamjah,nun. Apa maksudnya ini kak?”
“Itu nama kita. Hamjah itu adalah Ahmad Ilhami dan nun itu Nur Khalifah. Aku minta buatkan sama ayah Qosim, baguskan?”
“Iya, sangat bagus.. Terima kasih ya kak. Oh ya!” seru nya tiba-tiba. “buat kak Azkia mana?”
“Ini khusus buatmu saja Fah, aq gak sempat buatin untu Azkia”.
“Yaah… Gimana dong, entar ifah jadi gak enak ama kak Azkia”.
“Sudahlah, Azkia gak akan marah. Simpan saja tasbih itu baik-baik.. Aku ingin, jika aku pulang nanti.. Tasbih ini masih selalu kau pergunakan”.
“InsyaAlloh….”. Jawabnya singkat.
Dengan tiba-tiba Ilham meletakkan jari telunjuknya di jidat Khalifah, sambil sedikit menunduk seraya berkata, “Hey anak kecil! Tumbuhlah menjadi gadis cantik dan tunggulah aku yah”.
“Hah?”, khalifah hanya bingung.
Dan Ilham pun berlalu meninggalkan Khalifah di teras untuk bergabung bermain dengan teman sebayanya dihalaman.
Iya menghabiskan malam terakhirnya di indonesia dengan teman-teman sepermainannya. Esok ia akan meninggalkan mereka.
* * *
Malam terasa sunyi. Jam dinding diruang tengah sudah berbunyi dua kali, waktu menunjukkan pukul 00:03. Hanya bunyi detiknya dan suara jangkrik diluar rumah mengusik kesunyian malam.
Namun gadis kecil nernama Khalifah itu masih terjaga matanya.
Ia termenung tidak bisa tidur, padahal biasanya jam segini ia sudah pulas tertidur.
Didalam fikirannya terbesit nama Ilham, begitu sedihnya ia karna akan ditinggal sosok seorang kakak juga sahabat yg menjadi temannya sehari-hari selain azkia.
Fikirannya pun kembali melayang pada tasbih pemberian Ilham tadi.
Tasbih yg indah itu tidak cukup untuk menutupi rasa kehilangannya saat ini.
Besok Ilham beragkat seusai sholat subuh, tidak mungkin sempat untuk membelikan sesuatu sebagai kenangan kepada Ilham.
Khalifah sangat gundah, tetapi terus saja berfikir apa yg harus ia lakukan.
kemudian ia bangkit dari kasur menuju lemari yg berada di sebelah tempat tidurnya.
Ia membuka lemari itu dan mengambil kotak kecil berisi tasbih pemberian ilham tadi.
Ia pun membuka kotaknya dan mengambil tasbih itu
Lalu dikalungkannya pada lehernya,
Ia menggenggam ujung tasbih yg terjuntai tepat di dadanya.
Entah mengapa tasbih itu kini seperti harta yg paling berharga untuknya.
“Aku akan menjaganya dengan baik”. Ucapnya pelan.
Ia letakkan kembali kotak yg sekarang kosong itu pada lemari, seketika itu juga ia melihat Al-qur’an yg terletak didalam lemari yg sama.
Al-qur’an pemberian Ayah hadiah ulang tahunnya dua tahun lalu.
Khalifah seolah menemukan jawaban dari rasa gundahnya. Kena tidak ia berikan saja ini pada ilham,begitu fikirnya.
Ia langsung bergerak mengambil Al-qur’an itu.
Bukan Al-qur’an baru, tapi masih sangat bagus.
Karna ia memang jarang menggunakan Al-qur’an itu, ia lebih sering memakai Al-qur’an yg lebih besar yg ia dapatkan dari kakeknya, Mbah Nus.
Ia pun memutuskan untuk memberikan Al-qur’an hadiah ulang tahun itu kepada Ilham.
Besok sebelum berangkat ia harus memberikannya.
* * *
Adzan shubuh sudah bergema memanggil para makhluk untuk sama-sama bersujud kepada Sang Khalik.
Khalifah dan keluarga menjawab seruan adzan nan merdu itu dgn melaksanakan sholat subuh berjama’ah dgn para santri dimushola pesantren Al-firdaus.
Dengan khusuk ustadz Annur mengimami seratus lebih ma’mum yg sebagian besar para santri.
Sholat shubuh selesai dilaksanakan.
Khalifah pun bergegas merapikan mukena serta sajadahnya.
Dengan langkah cepat menuju rumah.
Diletakkannya sajadah itu di atas kasur, kemudian ia langsung membuka lemari.
Dgn sigap ia mengambil Al-qur’an yg tadi malam ia ingin berikan pada Ilham untuk mmbalas kenangan.
Khalifah bergegas keluar dan menerobos gerbang pesantren asuhan ayahnya itu.
Ia berlari kenjang dengan membawa Al-qur’an ditangannya.
Batinnya sangat cemas, takut kalau Ilham dan keluarga sudah berangkat alu ia tak sempat membalas kenangan Ilham.
Dan benar saja, pada jarak lima puluh meter dari rimah Ilham, Khalifah melihat mobil taksi yg mengantar keberangkatan keluarga Ilham kebandara sudah mulai berjalan pelan.
Menyadari itu, ia pun mempercepat larinya sambil berteriak, “Kak Ilham… Tunggu kak….!!”
namun mobil sudah berjalan cepat.
Tap khalifah terus berusaha mengejar mobil taksi itu semampunya.
“Kak Ilham… Berhentiiii… Kaakk… Berhentiii….!!”
Khalifah terus saja berteriak tampa menghentikan larinya.
Ilham yg saat itu duduk dibanku depan sebelah sopir tidak sengaja matanya mengarah pada kaca spion mobil taksi yg ia tumpangi.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat bayang-bayang khalifah sedang berlari mengejar mobilnya pada kaca spion itu.
Ia langsung meminta pada sopir untuk berhenti sebentar.
Sopir pun menuruti dan mobil taksi itu berhenti.
betapa leganya Khalifah ketika mobil itu berhenti dan melihat Ilham keluar dari mobil.
Ilham berjalan kearahnya dengan cepat.
“Ada apa Fah?”
“Hahhh..”ia mengatur nafasnya. “Nih, Untuk kak Ilham. Sebagai kenangan dari ifah…”. Nafas nya tersengal-sengal tak beraturan.
“Al-qur’an? Bukankah itu pemberian ayahmu?”
“Iya, ini pemberian ayah”. Ia menjulurkan kedua tangannya yg berisi Al-qur’an sambil mengatur nafasnya. “Ambillah… Ini ikhlas Ifah berikan untuk kakak”.
Ilhampun mengambilnya dari tangan Khalifah.
“Pergunakanlah dengan semeatinya ya kak.. Jangan lupakan Ifah, jangan lupakan kami semua. Ifah akan tunggu kakak sampai datang”.
Matanya berkaca-kaca, air matanya hampir saja menetes namun ia tahan.
“pasti Fah, pasti akan aku pergunakan dgn sebaik-baiknya. Aku akan merindukan kalian dan semua ini. Aku pasti kembali, insyaAlloh. Terimakasih Fah!”
Khalifah hanya mengangguk sambil menunduk. Ia tidak berani mengangkat kepalanya dan menatap Ilham.
Ia tidak ingin Ilham tahu bahwa matanya berkaca-kaca.
Ia ingin sekali menangis.
Ia hanya tersenyum nsambil masih menunduk.
“Assalamu’alaikum…”, ucapnya sembari melangkah menuju mobil taksi yg dari tadi sudah menunggunya.
“Wa’alaikum salam”,sahutnya sambil mengangkat kepalanya menyaksikan kepergian Ilham.
Ilham kembali menoleh gadis molek itu sebelum masuk kedalam mobil, lalu melambaikan tangannya dan tersenyum.
Khalifah pun membalas senyuman itu dgn senyum haru.
Mobil taksi itu pun mulai berjalan meninggalkan khalifah.
Kemudian tumpahlah air mata yg dari tadi khalifah tahan.
Ia menutup wajahnya dgn kedua tangan kecilnya dan menangis sejadi-jadinya ditepi jalan itu.
Sekarang Ilham sudah pergi kenegri orang.
* * *
Bersambung..
KEPART4
Komentar
Posting Komentar