Ketika Cinta Harus Berkorban part2


                                * * *
      Ujian ahir empat bulan lagi akan berlangsung, membuat Ilham semakin rajin belajar. Ia ingin sekali lulus dengan nilai yang bagus, ia ingin membawa kenangan indah dari indonesia dengan hasil ujian yang indah itu. Karna setelah lulus sekolah dasar nanti ia bersama ibu bapaknya akan merantau kenegri orang, kemesir.
Bapaknya bernama Khalid yang seorang pedagang itu tertarik untuk mengikuti jejak saudaranya yang juga seorang pedagang namun telah sukses dimesir.

     Sore itu Khalifah berjalan keluar. Tangannya membawa rantang kecil berisi bolu kukus buatan bundanya.
Bunda memang hoby bikin kue, dan sering di bagi kepada kerabat disekitar rumahnya. Termasuk kerumah Ilham, karna rumah Ilham tidak jauh dgn rumah khalifah.

     Ketika Khalifah sampai didepan rumah berhalaman luas dan dihiasi bunga-bunga indah yang tertata dihalaman itu, serta ditumbuhi pohon mangga yg rindang berdiri kokoh didepan rumah minimalis itu, membuat sejuk udara sore menghembus kewajah molek Khalifah.
Ia pun memasuki halaman indah itu. Dilihatnya sosok Ilham duduk dibawah pohon, bahu serta kepala bersandar pada pohon rindang itu. Ilham nampak begitu serius membaca.
Khalifah terus saja berjalan masuk kedalam rumah untuk mengantar bolu kukus buatan bundanya kepada ibu Ilham.

     Tak berapa lama, Khalifah keluar. Ia lihat pemandangan yg sama pada pohon rindang itu. Ilham masih dibawah sana dan masih serius dgn posisi yg juga masih bersandar.
Khalifah pun menghampiri Ilham. Kemudian duduk didepannya.
     “Baca apa kak?”.Tanya Kahlifah tiba-tiba.

     “Buku”.Jawab ilham singkat tampa melihat kearah Khalifah, matanya terus saja menjelajahi susunan kalimat perkalimat pada buku itu.

     “Huffh…..” Khalifah memutar bola matanya keatas. “Iya,Ifah tau…maksud ifah baca buku apa?

     “Oh…Nih”. Tunjuk ilham memperlihatkan cover buku yang iya baca kepada Khalifah. “Pengenalan bahasa arab”. Sambungnya.

     “Wuiih!! Kakak mau belajar bahasa arab yah?”.

     “Hehee…”. ilham terawa kecil sembari menutup buku itu.

     “Lulus SD nanti ngelanjutin kemana kak?”. dengan iseng Khalifah bertanya.

     “Hmmm.. Belum tau, tapi yang pasti gak disini”.

    “Loh, kenapa?”

    “Pengn cari suasana baru aja”

    “Suasana baru?”. khalifah mengerutkan kening dengan heran.

    Ilham mengangguk pelan mengiyakan perkataan Khalifah.

     “Bukannya disetiap kita memasuki sekolah yang baru toh kita juga akan mendapatkan yang baru yah? Seandainya kak ilham meneruskan sekolah disini pun, pasti kakak akan mendapatkan suasana baru”.

     Ilham pun menunduk. “Iya… Aku tau, tapi ini bukan hanya suasanan baru”.

     “Lalu?”. Khalifah penasaran.

     Ilham kembali mengangkat wajahnya dan berkata. “InsyaAlloh kami sekeluarga akan merantau kemesir. Ayahku mencoba kerja disana mengikuti saudara beliau yg sudah sukses disana, mau gak mau ya aku harus ikut Fah”.

     “Mesir itu yang pernah kaka ceritakan itu yah? Yang kata kakak jauh dari indonesia itu?”. Tanya Khalifah polos.

    “Iya Fah..”

    “Berapa lama kakak disana?”

     Ilham mengangkat bahunya.

     “Jadi kakak akan ninggalin kita semua ya? Kakak gak balik kesini lagi?”

     “Balik kok”, tepis Ilham. “Aku pasti akan balik kesini. Dan aku pasti gak akan lama. Kata bapakku begitu”.

     Suasana hening sejenak, guratan wajah Khalifah nampak sedih.
Ilham pun merasakan hal yang sama, tapi iya tidak ingin terlihat sedih di hadapan adik sepupunya itu.

     “Eh tadi kue apa yang kamu bawa?”. Ilham mencoba menyegarkan kembali pembicaraan.

     “Bolu kukus”. Jawabnya.

     “Waah! Itu pasti enak, gak sabar pengen coba nih”.

     “Gih cepetan kaka cobain, itu masih anget loh”. Suruh Khalifah sambil berdiri. “Aku mau pulang dulu”. Sambungnya.

     “Gak makan bolu nya dulu fah”

     “Gak lah. Dirumah masih banyak. Pulang dulu kak.. Assalamu’alaikum”

     “Wa’alaikum salam”. Sahut Ilham sambil tersenyum, matanya terus memperhatikan Khalifah yg beranjak pulang hinggat hilang dari penglihatannya.

                                * * *
     Saat makan malam. Khalifah bercerita bahwa keluarga pak khalid akan berangkat kemesir. Ayah Khalifah membenarkannya, karna ayah memang sudah mengetahuinya sejak kemaren. Kata ayah sekitar empat bulan lagi mereka akan mrninggalkan indonesia.

     “Ada keperluan apa kak Khalid pergi kemesir?”. Tanya bunda pada ayah.

     “Kata kak kahlid sih ada sodaranya disana yg ngajak dagang. Saudaranya itu sudah sukses. Jadi kak khalid tertarik untuk merantau kesana”. Jelas Ayah.

     “Terus Kak Ilham ikut gak yah?”. Tanya Azkia yg sangat terkejut mendengar berita yg dibawa Adik nya itu.

     “Pasti ikut lah, kalo ditinggal..sama siapa dia disini kan”. Ucap ayah.

     Mendengar itu Azkia pun tertunduk, ia meletakkan sendoknya. Kelihatannya iya tidak bernapsu menghabiskan makanannya. “Kayaknya azkia udah kenyang deh, Azkia duluan ya..”. Ia menghentikannya dan langsung masuk kamar.

     “Loh, Kakakmu kenapa Fah?”. Tanya ayah.

     Khalifah hanya menggelengkan kepalanya, tanda tidak tahu.

KE PART3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rebah Di Tirai Cinta ( Bab 22 )

Rebah Di Tirai Cinta ( Bab 24 )

NOVEL CINTA TERLENGKAP: Makluman