KETIKA CINTA HARUS BERKORBAN PART1


By Ni’mah

     “Ayo lariii….!!”. Seru seorang anak perempuan sekolah dasar bernama Azkia yg mulai berlari kencang.

     “Kak Azkia gak bakalan bisa ngalahin aku… Akulah yang akan duluan sampai rumah!”. Sahut gadis kecil dengan semangat sambil berlari. Berharap dialah yang akan menjadi juara dalam perlombaan lari antar adik kakak itu.
Lomba lari. Itu yang sering mereka lakukan sepulang sekolah. Bukannya tidak pernah dilarang oleh orang tua mereka, malah mereka berdua sering kena marah karna ketahuan lari-larian pulang sekolah.
Mereka memang menurut, dengan tidak lari-larian lagi pas pulang sekolah, tapi itu hanya bertahan beberapa hari saja, lepas dari beberapa hari itu mereka kembali dengan kebiasaan yang sama.

     Mereka berdua sama-sama berlari kencang. Beberapa kios yang menjual makanan kesukaan anak-anak seperti es dan permen yang berjajar di pinggir jalan benar-benar tidak mereka hiraukan.

     Tiba-tiba…….. Bruukk!!. Khalifah yang berlari dibelakang Azkia itu terjatuh dari larinya, ia pun langsung menangis tampa berbangun.
Namun Azkia terlanjur sudah jauh berlari,sehingga tidak menyadari kalau adiknya cidera.
Khalifah masih tersungkur di atas aspal, nampak lututnya lecet dan berdarah.
Kemudian dari samping, ada yang mengulurkan tangan untuk membantunya berbangun.
Khalifah pun menolehkan kepalanya keatas untuk melihat siapa yang mengulurkan tangan itu.
Ilham rupanya, Khalifah pun merangkul tangan kakak sepupu jauhnya itu dan berbangun.

     “Ifah gak apa-apa?”,tanya Ilham.

     “Gak apa-apa kak, tapi kakiku…”,Khalifah memegang kaki kirinya yg terluka.

     Melihat itu Ilhampun berjongkok lalu menoleh kearang Khalifah, “Ayo naik. Biar aku gendong”. Suruh Ilham pada Khalifah.
Khalifah hanya diam tapi menuruti perintah kakak sepupunya itu.
Ilhampun menggendong Khalifah dan mengantarkan pulang.

     Kaki Ilham melangkah dengan pelang sambil menggendong Khalifah dibelakangnya. Dengan erat Khalifah mengalungkan tangannya di leher Ilham.

     “Lain kali kalo pulang sekolah jangan lari lagi”. Kata Ilham mengingatkan.

Khalifah hanya diam. Pandagannya tertuju pada bebatuan yg menambahi hiasan ditanah, tangannya sesekali menyeka air matanya yang mulai reda.

     “Kamu pernah dengar kairo?”. Tanya Ilham.

     “kairo itu nama kotakan?”sahut Khalifah.

     “iya,sebuah kota yang berada dimesir, jauh sekali dari indonesia”.

     “Memangnya kenapa kak dengan kairo?”

     “Gak papa kok, cuma nanya. Kali aja kamu bulum tau fah.. Jadi biar aku kasih tau. Aku kan pintar”. Kata ilham sambil tertawa kecil, kakinya terus saja berjalan dengan santai.

    Khalifah hanya mesam-mesam saja mendengar Ilham memuji diri sendiri.
     “Emang cita-cita kak Ilham apa sih?”

    “Coba tebak apa cita-citaku?”

     “Gak tau”.

     “Ayo…tebak…”. Paksa Ilham.

     Khalifah diam sejenak sembari berfikir.
     “Jadi pedagang seperti Ayah Kakak kan”.

     “Bukan….”

     “Emm… Jadi pelukis?”

     “Bukan!”

     “Oh,benar juga. Lukisannya kan jelek”.kata Khalifah pelan.

     “Hah! Apa kamu bilang? Lukisanku jelek?”

     “kok kakak dengar..”

     “Ya jelas dengar lah, posisi mulutmu itu tepat disebelah telingaku”

     “Oh…maaf. Oya, kalau bukan pelukis… Jadi pilot yah?”

     “Bukan juga….”

     “ya habis apa dong kak…?”.kata Khalifah sambil memanyunkan bibirnya.

     Ilham hanya tersenyum. “Cita-citaku masih buram… Belum ada yg pasti. Hehee…”.

    “Ih, kakak apaan sihh!”, Khalifah menepuk bahu Ilham, “tadi disuruh nebak. Nyebelin!”. Khalifah kesal.
Ilham hanya tertawa saja menanggapinya.

             * * *

     Sepulang Azkia dirumah.
     “Yee…..!! Aku yg menang!!. Assalamu’alaikum bunda..”. Ucapnya dgn senyum lebar atas kemenangannya yg sebenarnya tanpa lawan.

     “Wa’alaikum salam”.Bunda membalas salam sambil membukakan pintu.

Ketika pintu dibuka, Azkia langsung merangkul tangan bundanya kemudian mencium tangan itu.

    “Loh,adikmu mana Azkia?”.tanya bunda.

Azkiapun menolehkan kepalanya kebelakang.
     “Tadi sih dibelakang bu..” jawabnya. “apa ketinggalan jauh ya”,gumam Azkia pelan.

     “memangnya tadi pulang gak bareng?”

     “Bareng kok bu, tapi tadi… Emmm..”, perkataannya terhenti.

     “Tapi apa?” tanya bunda sambil menunduk mengarah pada Azkia.

     “Emm..”,ia bingung harus menjawab apa,tidak mungkin ia harus jujur. “tapi mungkin dia jajan dulu kali”,ucap Azkia sekenanya.

     “kok kamu bisa gak tau kalo adikmu jajan? Kan bareng”.

     “Aowhh!”,Azkia memegang perutnya. “kayaknya Azkia harus kekamar mandi”,Ucapnya sambil berlari kedapur  yg sebenarnya untuk menghindari pertanyaan bunda.

                      * * *

     Tidak terasa Ilham dan khalifah sampai di depan gerbang pesantren Al-Firdaus. Pesantren yg didirikan oleh kakek Khalifah, K.H M.Yunus. Orang sekitar biasa menyebut beliau dengan Mbah Nus. Dan sekaran pesantren Al-Firdaus telah di Asuh oleh Ustadz Annur. Yg tidak lain adalah ayah dari Azkia dan Khalifah.
Ustadz Annur ialah sosok seorang yang disegani di daerahnya, sebab ketegasannya dan kewibawaannya.
Terlebih ia pernah menimba ilmu di negri sejuta wali, Yaman.
Bertahun-tahun ia mendalami ilmu agama dikota tarem dan kota zabid, dua kota itu pernah ia jadikan tempat berteduh dalam mencari dan mengkaji ilmu.
     Didalam gerbang pesantren, 500m dari bangunan tingkat tiga berwarna abu-abu tempat para santri menimba ilmu itu berdiri rumah ustadz Annur.
Dibelakang rumahnya tersusun beberapa bangunan tingkat dua tempat asrama para santri.
Dan ditengah antara bangunan pesantren dengan rumah ustadz Annur berdiri sebuah mushola yg cukup luas untuk menampung para santri sholat berjama’ah atau pun melakukan kegiatan lain.
Azkia dan Khalifah sudah terbiasa dgn lingkungan pesantren itu.

    Dengan masih menggendong Khalifah, Ilham berhenti didepan pintu gerbang yg sedikit terbuka itu.
Tampa menyuruh Khalifah turun dari punggungnya, ia menggeser pintu gerbang itu dengan tangan kanannya untuk memperluas agar ia dapat masuk.
Ia pun memasuki area pesantren tersebut.
Ia berjalan kearah kanan menuju rumah khalifah.

     “Assalamu’alaikum..”. Ucapnya ketika sampai diteras rumah Ustadz Annur.

     “Wa’alaikum salam”. Suara bunda menyahut dari dalam.

Pintu pun dibuka.
     “Khalifah kenapa?”. Bunda terkejut. Ia langsung menurunkan khalifah dari punggung Ilham.

    “Pulang sekolah tadi Ifah lari dan terjatuh”. Ilham mengadukan.

     “Aduh Khalifah….! Sudah berapa kali bunda tegor ha. Jangan lari-larian pulang sekolah. Kamu ini penurut nya masyaalloh! Nah, ini akibatnya”. Ucap bunda dgn marah. “ibu ambilkan kotak obat dulu kedapur yah”. ucapnya lagi sembari berjalan kedapur.
Begitulah seorang ibu, semarah apa pun ia tetap ia tidak akan peduli, marah seorang ibu adalah tanda kasih sayangnya kedapa anak.

     Khalifah yg duduk di sofa itu menatap tajam pada ilham yg sedang berdiri melihat pemandangan pesantren dari balik kaca.
Menyadari sedang ditatap oleh gadis mungil dan imut itu ia pun menolehkan matanya pada Khalifah.
Mata Khalifah menatap tajam seolah mengatakan bahwa ia sedang marah.
Melihat mata itu, ilham pun langsung duduk di sofa yg sama lalu mengatakan.
     “maaf ya Fah, sepertinya aku salah ya sudah berkata jujur pada bundamu?”

     “Ah, gak apa-apa lebih baik jujurkan”

Ucapan Khalifah membuat Ilham lega.
Padahal batin khalifah mengatakan “Aku sebel sama kak ilham. Knp dia mengadukan begitu! Tuu kan..bunda jadi marah-marah”.
Tapi ia menutupinya dengan senyum kepada Ilham. senyum yg hambar, seperti teh tanpa gula.

     Sesaat kemudian Azkia pun keluar. Terkejutlah ia ketika melihat keadaan lutut Khalifah yg terluka.

    “Astagfirulloh, lututmu cidera Fah?”,

     Khalifah menganggukkan kepalanya.

 Azkia pun merasa bersalah.

     “Tadi dia hampir gak kuat jalan. Jadi aki gendong deh sampai sini”. Ilham menerangkan.

     “Gendong?! Jadi tadi kak ilham menggendong khalifah?”

     “E’eh”. Sahut Ilham singkat.

Azkia hanya diam mendengarnya. Garis wajah anak kecil itu nampak sendu, entah kenapa ia merasa iri pada adiknya, namun juga merasa bersalah. Mengingat, ia lah yg mengajak lari pas pulang sekolah tadi.

     Bunda pun datang membawa kotak obat ditangannya. Bunda menuangkan alkohol pada kapas kemudian dibersihaknnya lutut khalifah dengan kapas itu, lalu d obati seperlunya.
Setelah selesah Khalifah di obati. Ilhampun pamit pulang.
     “Ilham pamit dulu bik, takut ibu khawatir”.

     “Oh,iya..makasih ya ham sudah ngantrin Khalifah pulang. Salam buat ibumu ya”.

     “insyaalloh akan Ilham sampaikan. Assalamu ‘alaikum”. Salam ilham sembari berdiri kemudian keluar.

Bersambung..
KEPART2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rebah Di Tirai Cinta ( Bab 22 )

Rebah Di Tirai Cinta ( Bab 24 )

NOVEL CINTA TERLENGKAP: Makluman