JANGAN MELIIHAT BUKU DARI SAMPULNYA
Jaya. Aku suka fotografi dan menulis, terutama menulis cerpen. Menulis
adalah hobiku sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kali ini aku ingin
menulis cerita yang berbeda dari yang lain. Aku ingin sekali membuktikan
ungkapan “Don’t judge the book by the cover”. Cara pandang seseorang
terhadap sesuatu bukan hanya dari luarnya saja tapi dari dalamnya juga
teruatama hati.
Aku penasaran dengan teman kelasku yang bernama
Dian. Bukan Dian Sastro Wardhoyo lhoo yaa. Ia sering diejek teman
sekelas. Katanya sih wajahnya yang gak cantik, kulitnya item dan paling
“iyuuuuh” deh seantero sekolah. Padahal kan cantik itu relatif. Setiap
kali aku ingin bicara dengannya, ia malah cuek.
“Ian, nanti latihan Pramukanya jam berapa?”, aku mencoba akrab dengannya.
“Jam 4 sore”, jawabnya dengan ketus.
“Jawabnya kok gitu sih Ian?”
“Kamu
juga sama kan dengan yang lainnya. Hanya ingin mengejek wajah buruk ku.
Jangan sok akrab deh. Maaf”, sambil melangkah menjauhiku.
“Padahal
aku ingin membuktikan sesuatu pada dunia tentang tak penting wajah
cantik itu. Yang paling penting adalah kecantikan hatinya”, kataku dalam
hati.
![]() |
| Jangan Melihat Buku Dari Sampulnya |
matanya menyimpan kebaikan. Beda dengan yang lain. Aku ingin membuat
cerpen tentangnya. Sering kulihat kalau Dian diolok-olok cewek-cewek
super nakal nan menyebalkan, sok cantik, sok rajin, sok gaullah. Namun
kali ini sudah sangat keterlaluan ucapan mereka. Aku beranikan diri
mencoba mendekati kerumunan menyebalkan itu.
“Enggak ada kerjaan lain
apa? Selain mengejek orang? Ngaca dulu dong sebelum menilai orang lain,
belum tentu kalian lebih baik dari orang yang kalian ejek”
“Wah
wah… ada pangeran kerajaan nih belain putri buruk rupa”. Kata Anita,
cewek paling cantik disekolah namun sayang hatinya gak secantik
tampangnya. Dian tak sanggup lagi menahan cemoohan yang sudah sangat
keterlaluan itu. Ia pun lari meninggalkan kerumunan. Langkahnya
meninggalkan sejuta perih. Ingin marah namun tak bisa. Aku tahu itu.
Kini hanya terdengar tawa riang cewek-cewek menyebalkan itu. Mulai detik
ini aku ingin tahu lebih dalam tentang Dian. Aku ingin mengungkapkan
sisi baiknya, agar semua orang tahu cantik dari hati jauh lebih indah
dan mempesona. Ku yakin Dian menyimpan sejuta kebaikan dari mataya yang
teduh itu.
Keesokan harinya aku memutuskan untuk menjadi
pengintai Dian. Hehehee.. sok keren banget ya aku. Sungguh tak mampu ku
ingkari mata Dian menyimpan sejuta kebaikan. Entah apa, aku tak tahu.
Sebenarnya Dian gak jelek. Dia hanya berkulit sawo matang dan tinggi.
Dan senyumnya manis kulihat. Apa hanya tidak berkulit putih bisa
dikatakan jelek? Ah.. menurutku tidak.
Dengan gaya sok detektif
aku membuntuti Dian. Kulihat ia diseberang. Dan apa yang ia lakukan? Tak
kusangka, disaat para pejalan kaki tak bergeming untuk membantu
menyeberangkan seorang nenek yang sudah renta, namun ia.. Dian,
membantunya. Sesegera mungkin aku menulis dan memotret apa yang
dilakukan Dian. Tak ingin ku lewatkan hal ini. Semakin semangat ’45 aku
membuntuti Dian. Dan ketulusan hati itu muncul lagi. Dian membantu
seorang bapak yang terlihat sangat kerepotan membawa barang-barangnya.
Dian mengantar bapak itu hingga sampai rumahnya. Pertanyaan dalam
benakku, bagaimana ia mau repot-repot melakukan hal ini? Padahal ia sama
sekali tak mengenal bapak itu.
Capek banget aku menbuntutinya.
Hmmm.. kulihat ketulusan itu datang lagi. Dian menolong anak kecil
pemulung yang kelaparan. Tak tanggung-tanggung ada sekitar 7 anak. Wah!
Darimana ia bisa membelikan anak-anak itu makanan? Kan selama ini Dian
dikenal sebagai anak yang tak mampu. Aku semakin penasaran. Cukup lelah
aku mengikutinya, akhirnya aku hentikan langkahku. Dian berhenti
berjalan dan menuju sebuah sanggar belajar.
“Apa pula ini? ”
Dari
jendela kulihatdan kuintip segala penjuru ruangan itu. Banyak anak-anak
kecil nan imut duduk manis dikursi warna-warni. Kulihat disana disudut
ruangan ada Pak Robby. What?! Pak Robby adalah donatur sekolah ku yang
paling
banyak sumbangannya. Ia terkenal sebagai orang yang baik dan
dermawan. Muncul tanda tanya besar. Apa pula hubungannya dengan Dian?
Tak
lama kemudian sosok wanita berkerudung berpakaian rapi datang mengajar
anak-anak itu Bahasa Inggris. Siapa dia? OMEGAT!!! Dia Dian! Tapi
mengapa kulihat kulitnya putih berseri? Aku tak tahu kenapa aku bisa
melihatnya begitu. Dian, hinga detik ini, detik dimana aku tahu sosok
Dian yang sebenarnya.
Kegiatan belajar mengajar itu telah usai.
Anak-anak nan imut telah berlarian riang meninggalkan sanggar belajar
itu. Aku mencoba menghampiri Dian.
“Assalamualaikum.. permisi, apa kamu Dian yang selama ini ku kenal?”
“Kenapa kamu ada disini?” gimana kamu bisa tau tempat ini?”, kata Dian heran.
“Aku seharian ini membuntuti mu. Dan aku menulis dan memotret semua kebaikan yang kamu lakukan”
“Tolong hapus foto-foto itu, aku mohon. Aku gak ingin ada temen sekolah yang tahu”
“Baik, aku bakal menghapusnya”
Aku seketika gemetar melihat wajahnya yang cantik dan aku tak sanggup berkata apa-apa lagi. Aku memutuskan untuk pamit pulang.
“Ian, kalo gitu aku mohon pamit pulang ya”
“Iya, hati-hati dijalan ya”, sambil senyum manis dibibirnya.
“Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam..”
Aku
mulai meninggalkan tempat itu dan melangkahkan kaki. Sekilas aku
menengok ke belakang, tak kusangka dia melambaikan tangan padaku. Tampan
ataupun cantik itu relatif. Semua pria tampan dan semua wanita cantik
apalagi dari hatinya. Hari ini telah nyata ku lihat sendiri pembuktian
itu. Don’t judge the book by the cover (jangan menilai buku dari
sampulnya = jangan menilai seseorang dari luarnya). Bukanlah make up
yang tebal, pakaian yang keren dan aksesoris yang ‘wow’ ataupun kulit
putih yang mulus yang membuat seseorang tampan atau cantik. Namun yang
membuat seseorang terlihat tampan adalah ketulusan dan kebaikan hati.

Komentar
Posting Komentar