ARDHI DI MATA LEA DAN ARDHI DI HATI LIA

Hari ini ultah adikku Lea dan Lia peri
cantik yang di ciptakan tuhan untuk ku, ayah dan ibu. Aku tak pernah
melihat peri kecilku dari kekurangan mereka meski ku sadar sewaktu-waktu
salah satu dari mereka akan meninggalkan kami. Saat itu usiaku terlalu
kecil untuk mengetahui kesedihan orang tuaku dan aku juga terlalu larut
gembira melihat adikku yang terlahir kembar. Usiaku saat itu 6 tahun,
saat ku di jemput pulang sekolah oleh ayah untuk segera ke rumah sakit
karena adik kembarku telah lahir. Aku melompat kegirangan akhirnya
adikku lahir. Tak sabar rasanya tuk segera sampai dan melihat
adik-adikku. Tapi setelah sampai aku tak menemui adikku di kamar ibuku.
Aku pun menanyakan kepada ayah dimana adikku. Lalu ayah mengajakku ku
suatu ruangan tempat adik-adikku tertidur lelap di dalam sebuah tempat
tidur yang bagiku hebat karena semuanya di tutup oleh kaca dan mereka
punya tempat tidur sendiri-sendiri dengan cahaya lampu di dalamnya.
“Adik
Ardhi ada dua ya, Yah. Lalu siapa yah namanya? Oh iya yah kok adik
punya tempat tidur sendiri-sendiri di sini bukannya kemarin ayah hanya
beli satu. Ayo yah kita ajak adik pulang. Aku tak sabar ingin bermain
bersama mereka.”
“Kamu ingin kasih nama mereka siapa?”
“Aku ingin
kasih nama Zahra yah, kata ibu guru Zahra itu artinya bunga. Kan mereka
perempuan jadi biar cantik seperti bunga. Boleh ya yah! Tapi yah, adik
Ardhi kan ada dua lalu satunya namanya siapa?”

Cerpen Motivasi Pendidikan – Ardhi Di Mata Lea dan Ardhi Di Hati Lia
Ayah hanya tersenyum mendengar nama yang aku beri untuk peri cantikku
itu. Lalu ayah memberi nama depan adik-adikku dengan nama Zahra. Zahra
Aleea dan Zahra Aliya ya itulah nama kedua adik kembarku. Aku setuju
dengan nama indah itu.

Hampir seminggu ibu di rawat, hari ini ibu
pulang aku sampai melompat-lompat saat ibu membuka pintu tapi ada yang
kurang saat ibu pulang. Karena tanpa mengajak peri cantik Lea dan Lia.
Aku sampai ingin menangis di pelukan ibu, aku ingin bertemu dengan adik
kembarku. Tapi kata ibu, mereka masih tidur saat ibu mau pulang jadi ibu
tidak tega kalau harus mengajak mereka jadi mereka ibu titipkan sama om
dokter di sana. Aku pun tersenyum, bu, nanti kalau adik sudah bangun
ajak pulang ya buk, Ardhi ingin bertemu mereka bu. Aku hampir setiap
hari diajak Ayah untuk melihat adik-adikku yang kian bertambah lucu.
“Yah
kapan adik boleh pulang yah, kasian adik yah di sana terus kan sepi gak
ada Ardi, gak ada ayah dan ibu di dalam kan gak ada mainan terus nanti
kalau mereka lapar gimana ya?”


Lalu ayah mengajakku menemui dokter. Aku pun dengan penuh semangat
bergegas ke ruang dokter yang selama ini menjaga adik. Ayo Yah cepat,
kita cari om dokternya. Lalu ayah berbicara dengan dokter yang menangani
kondisi Lea dan Lia. Ardhi yang tak mengerti obrolan dokter dan ayahnya
hanya bisa duduk diam menunggu ayah yang akan menjelaskan kata-kata
dokter tadi. Ayah hanya memberitahuku kalau adikku bisa di pulang besok
tanpa memberitahuku sakit yang diderita adikku.
Aku gembira sekali
hari ini tak terasa sudah dua bulan, Lea dan Lia berada di rumah sakit.
Dan kini aku dan ayah bersiap-siap menjemput adik-adikku pulang. Kini
rumahku bertambah ramai dengan suara tangisan sikembar. Ku lalui
hari-hariku bersama adik-adikku tak lupa setiap bulan aku selalu
menemani adik-adikku untuk bertemu om-dokter. Kata ayah om dokter kangen
dengan adik kembarku. Aku selalu ikut karena aku tak mau om dokter
mengajak Lea dan Lia menginap di sana lagi.


Kini usia adikku menginjak 3 tahun, dan aku mulai merasakan ada yang
berbeda dengan adik-adikku. Lalu aku tanyakan itu pada ayah, ayah hanya
mampu memberitahuku kalau Lea matanya sakit jadi tidak bisa melihat
yang jauh-jauh sedangkan adikku Lia tidak boleh bermain lama-lama nanti
dia cepat capek. Oo jadi Lia sama dong Yah seperti Ardhi, Ardhi juga
kalau habis main kejar-kejaran pasti capek. Jadi Lia gitu ya yah.


Aku selalu menceritakan apa yang aku kerjakan kepada adik-adikku
setiap hari. Aku tak ingin mereka sakit lagi. Kujaga adik-adikku agar
mereka tidak main terlalu capek. Kuajak mereka membaca terkadang juga
menonton kartun. Kini peri cantikku pintar membaca.
Hari ini rumah
kami di hias indah karena hari ini ulang tahun adik kembarku di rayakan
bersamaan dengan syukuran karena aku mendapat peringkat 1 di kelasku.
Kue tart bergambar minni mouse tak lupa lilin berangka 5 ku letakkan di
atas kuenya. Adik kembarku terlihat cantik dengan baju warna pink yang
modelnya sama dan rambut yang di beri bando bunga oleh mama. Karena
adikku kembar identik jadi mama meletakkan hiasan bando Lea di sebelah
kanan dan Lia di sebelah kiri tak lupa kalung nama mereka masing-masing.

Aku
sangat sayang kepada adik kembarku. Terkadang barang yang ku punya
sering mereka minta. Tapi aku selalu berikannya. Mama memang selalu
mengajarkanku untuk mengalah kepada adik-adikku namun tanpa mama
ingatkan juga aku kan selalu mengalah demi melihat adikku tersenyum.
Pagi ini aku berangkat sekolah saat peri cantikku masih tertidur di
kamarnya. Tak ada perasaan apa-apa saat ku melangkahkan kakiku untuk
pergi ke sekolah namun saat aku masih di sekolah mendadak ayah
menjemputku untuk segera ke rumah sakit kata ayah Lia harus menginap di
rumah sakit. Aku menangis di pelukan ibuku,
“Bu, maafkan Ardhi, Lia
sakit pasti karena Ardhi tak menjaga Lia. Ardhi main game terus tapi gak
apa-apa kok buk kalau mau di jual. Kan Lia sakit juga karena Ardhi..”
“Kok
anak ibu jadi cenggeng gini sie, Lia gak apa-apa kok. Lia cuma
kecapekan aja besok pasti sembuh. Jangan tangis ya mending Ardhi berdo’a
agar Lia cepat sembuh.”
Aku pun mengajak Lea berdo’a. di akhir do’a
aku pun berjanji gak kan bermain games terus dan akan menjaga
adik-adikku agar mereka tiak bermain terlalu capek. Setelah berdo’a aku
mengajak Lea makan makanan yang belikan ayah di kantin rumah sakit.
Dengan sabar aku suapi Lea makan. Kini penglihatan Lea semakin
terganggu.terkadang dia sulit melihat siapa yang ada di depannya.


Ternyata Lia tak harus menginap di rumah sakit karena sore harinya
Lia sudah boleh pulang. Dokter memberitahu ayah dan ibu tentang sakit
yang di derita Lia dari bayi ternyata kinerja hati Lia kian memburuk
sehingga setiap bulan Lia harus cuci darah di rumah sakit. Tak lupa om
dokter memberitahuku agar selalu menjaga adik-adikku jangan sampai
mereka bermain terlalu capek kalau mereka sakit mereka bisa menginap di
rumah sakit. Aku pun berjanji kepada dokter kalau aku kan selalu menjaga
adik-adikku. Aku pun di minta untuk selalu mengajak Lia menemui om
dokter setiap tanggal 7. Aku tak tahu untuk apa tapi aku akan selalu
mengingatkan ayah dan ibu untuk mengajak Lia bertemu om dokter setiap
tanggal 7 agar Lia tidak sakit-sakit lagi.


Ternyata kata dokter benar setiap bulan aku dan mama mengajak Lia
untuk bertemu dokter Lia sudah jarang sakit-sakit lagi. Sudah hampir 2
tahun berlalu Lia tidak pernah di rawat di rumah sakit hanya setiap
bulan untuk periksa saja. Namun kini aku tahu mengapa Lia harus bertemu
om dokter setiap bulan ternyata Lia sakit parah dan Lia bisa meninggal
kapan saja. Aku sampai menangis saat tahu apa yang sebenarnya terjadi
kepada adikku.


Hari ini adalah pesta ulang tahunku ke 18, aku awalnya tidak mau di
rayakan tetapi Lea dan Lia terus mendesakku, ayah dan ibu juga tak
keberatan kalau ulang tahunku kali ini di rayakan. Akhirnya pesta itu
pun di gelar. Aku yang sibuk dengan teman-temanku hanya mampu tersenyum
dari kejauhan melihat tingkat peri cantikku berebut menerima kado-kado
yang sebenarnya untukku. Aku tahu sebenarnya merekalah yang ingin pesta
itu tapi ulang tahun mereka masih 5 bulan lagi. Aku janji diulang tahun
mereka kan ada banyak kado untuk mereka. Kan ku tabung uang jajanku
untuk membeli banyak kado untuk mereka.


Sebelum tidur ku ambil kotak yang tak kuletakkan di bawah tempat
tidurku. Hasil pemeriksaan dokter tentang gejala sakit yang aku rasakan
selama ini. Aku mengambil hasil tes ini kemarin tapi belum sempat aku
baca seharusnya orang tuakulah yang mengambil surat ini tapi ku minta
kepada ayah temanku untuk mengambilnya. Setelah ku kunci pintu kamar, ku
baca surat itu betapa terkejutnya aku setelah ku tahu kalau aku
mengidap leukemia stadium 3 dan kini ku tahu umurku tak kan sampai 1
tahun lagi. Aku hanya bisa menangis membayangkan kalau aku yang kan
lebih dulu meninggalkan ayah, ibu juga Lea dan Lia. Tapi aku harus
merahasikan ini, aku tak ini menjadi beban bagi mereka. ku ikuti saran
dokter untuk rutin memeriksakan kondisiku setiap bulan dan tidak boleh
banyak beraktifitas. Namun dibalik rasa sakit ini ku tetap menyiapkan
pesta ulang tahun peri cantikku Lea dan Lia. Biarlah ini kan menjadi
pesta terindah bagi mereka dariku karena aku tak tahu apakah tahun depan
aku bisa membuat pesta seperti ini. 

Hingga hari itu pun tiba, pesta yang berkonsep taman ku buat bersama
teman-temanku kini benar-benar jadi kenyataan. Banyak teman-teman dan
keluarga yang datang tak lupa kado-kado yang mereka bawa juga kado yang
memang kusiapkan banyak untuk mereka dan satu kado special yang hanya
boleh di buka pada usia mereka 13 tahun 3 bulan memang aneh katanya
namun mereka tak tahu kalau itu adalah hari-hari terakhir aku bersama
mereka. 1 bulan berlalu dari hari ulang tahun mereka dan mereka mulai
merenggek kepadaku agar kado itu boleh di buka. Tapi aku selalu katakan
untuk bersabar biarlah hari itu datang dengan sendirinya tanpa mereka
tunggu-tunggu. Kini aku mulai merasakan tubuhku kian melemah dan sering
pingsan tanpa sebab. Setelah 2 bulan dari ulang tahun adik kembarku, aku
pun tak sadarkan diri selama seminggu kini aku terbaring lemah di
sebuah kamar rumah sakit dengan serangkaian alat penolong hidupku. Aku
menyampaikan inginku kepada mama kalau aku ingin bertemu Lea dan Lia
nanti malam dan tolong di bawakan kado berbungkus pink dariku itu. Tepat
pukul 7 malam Lea dan Lia datang ke rumah sakit dengan diantar oleh
ayah. Dengan membawa kotak kado yang berbungkus warna pink dan rapi
ternyata mereka benar-benar menuruti perkataanku kemarin.

Lia
memberikan kado itu kepadaku. Namun aku menolaknya aku minta Lia membuka
kado itu dan melihat isi kado itu. Dengan hati-hati Lia pun membuka
kado itu ternyata berisi sepasang kalung yang bertuliskan “Peri Cantik”
dan selembar kertas. Lia pun membaca surat itu. “untuk Peri Cantik
kakak, semoga kalian kan benar-benar terlihat cantik dan merasakan
indahnya dunia ini”.
“Maksud kak Ardhi apa?” Tanya Lea yang sejak tadi hanya mampu melihat melalui pendengaran dan hatinya.
“Nanti
kalian juga kan tahu maksud kakak, mungkin hanya itu yang dapat kakak
beri untuk kalian. Sekarang kalian pakai kalung itu dan jaga baik-baik.
Kalian pulang ya sudah malam besok kakak juga kan pulang lagi kok ke
rumah”.


Dengan diantar ayah, Lea dan Lia pun pulang dengan rasa senang
karena mendapat hadiah kalung dari Ardhi. Namun mereka tak tahu kalau
itu adalah malam terakhir mereka bersama Ardhi. Pagi harinya kondisi
Ardhi memburuk dengan berbagai cara dokter berusaha untuk menolong Ardhi
namun Ardhi dinyatakan telah meninggal dunia. Lea dan Lia sengaja belum
diberi tahu karena ibu takut kondisi Lia kan kian memburuk. Mereka baru
tahu setelah jenazah Ardhi di bawa pulang, suara tangisan pun tak dapat
terbendung lagi. Lia langsung memeluk tubuh Ardhi yang telah terbujur
kaku. Dengan di bantu ayah Lea diberitahu dan diantar mendekati Ardhi.
Suara tangis saudara kembar ini memecah keheningan duka membuat para
pelayat ikut menangis, mereka tahu bagaimana Ardhi sangat menyayangi
adik kembarnya tersebut. Lea sampai memohon kepada ayahnya agar ia di
bolehkan untuk memeluk tubuh Ardhi untuk terakhir kalinya.


Malam setelah Ardhi dikebumikan. Ayah mengajak Lea dan Lia berkumpul
ada sesuatu yang ingin ayah sampaikan mengenai pesan Ardhi sebelum ia
meninggal. Ternyata Ardhi telah meminta dokter untuk mendonorkan mata
dan hatinya setelah ia meninggal untuk peri cantiknya itu. Lea dan Lia
menerima keinginan Ardhi walau mereka sebenarnya sedikit berat untuk
menerima dari orang yang paling mereka sayangi.

Setelah seminggu
dari operasi, Lea dan Lia dibolehkan pulang namun sebelum menuju rumah
mereka kemakam Ardhi. Lea tiba-tiba menangis di atas pusaran makam
Ardhi. Lea yang hanya mampu melihat kakaknya sampai berumur 3 tahun
merasa bangga terhadap Ardhi, kini berkatnya ia dapat merasakan indahnya
dunia lagi dan Lia dapat bermain lagi.
“Terima kasih kak, kakak
memang pahlawan kami. Kini kakak bukan lagi di samping kami tapi kak
Ardhi kan ada di setiap sorotan mataku dan kakak selalu ada di hati Lia.
Makasih kak untuk semuanya.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rebah Di Tirai Cinta ( Bab 22 )

Rebah Di Tirai Cinta ( Bab 24 )

NOVEL CINTA TERLENGKAP: Makluman